omah kucink

Minggu, 21 Maret 2010

Saparan Pondok Wonolelo Ngemplak, Sleman Sebagai Permesatu Bangsa




BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pada hakekatnya kebudayaan yang merupakan hasil “budi dan “daya” manusia itu , mengikat derajat manusia sebagai makhluk Tuhan yang tertinggi diantara makhlu-makhluk Tuhan yang lain, seperti binatang dan tumbuh-tumbuhan. Dengan kebudayaan kita dapat mengetahui tingkat peradaban manusia pendukungnya. Namun dengan demikian perlu kita sadari bahwa tingkat kebudayaan dan peradaban itu banyak ditentukan oleh kemampuan manusia itu sendiri dalam menghadapai tantangan alam sekitar atau lingkungan diamana mereka tinggal dan hidup. Dalam hal ini nyata bahwa alam sekitar memberi batas kemampuan manusia untuk berbuat dan melakukan sesuatau sesuai denagn “akal” atau “budi” dan “dayanaya”. Di sini manusia, kebudayaan dan alam sekitar merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia.
Menurut koentjaraningrat (1980;217) setiap kebudayaan yang dimiliki oleh manusia itu mempunyai 7 unsur-unsur kebudayaan yang bersifat universal. Unsure kebudayaan itu adalah :1)bahasa,2)system pengetahuan,3)organisasi social,4)system peralatan hidup dan teknologi5)system mata pencaharian hidup,6)system religi, dan 7)kesenian.
Dalam masyarakat yang sudah maju, norma-norma dan nilai-nilai kehidupan itu dipelajarai melalui jalur pendidikan, baik formal maupun non formal. Sedang dalam masyarakat yang masih tardisional terdapat suatu bentuk sarana sosialisasi yang disebut upacara tradisional.
Penyelenggaraan upacara itu penting artinya bagi pembinaan social budaya warga masyarakat yang bersangkutan antara lain karena salah satu fungsinya adalah sebagai pengokoh norma-norma serta nilai-nilai budaya yang telah berlaku. Hal tersebut kemudian secara simblois ditamilkan melalui peragaan dalam bentuk upacara yang dilakukan dengan cara khidmat oleh warga masyarakat yang mendukungnya dan yang dirasakan sebagai bagian yang integral dan akrab serta komunikatip dalam kehidupan kulturnya. Sehingga dapat membangkitkan rasa aman bagi setiap warganya ditengah lingkugan kehidupan masyarkatnya, dan tidak kehilangan arah serta peganagan dalam menentukan sikap dan tingkah lakunya sehari-hari. Demikian pula rasa solidaritas antara sesama warga masyarakat denagn penyelenggaraan upacara dapat menjadi lebih tebal.
Bagi masyarakat jawa khususnya yang tinggal dan hidup di Daerah Istimewa Yogyakarta juga mengenal beberapa bentuk upacara tradisional. Disini akan membahas akan lebih dalam tentang upacara tradisional, dan disini lebih dalam tentang Upacara Tradisional Saparan di Desa Widadamartani, Ngemplak, Sleman, upacara ini dikenal sebagai “upacara Saparan Wonolelo”.






Rumusan Masalah

• Ki Ageng Wonolelo
• Tempat penyelenggaraan upacara
• Nama upacara dan tahap-tahapnya
• Maksud dan tujuan upacara
• Pantangan – pantangan yang perlu ditaati dan Makna yang terkandung dalam simbol-simbol upacara
• Saparan Pondok Wonolelo Ngemplak, Sleman Sebagai Permesatu Bangsa





BAB II
PEMBAHASAN


A. Ki Ageng Wonolelo
Ki/Kyai Ageng Wonolelo( Kyai Jumadigena) adalah keturunan dari Syeh kaki dan Syeh kaki merupakan keturunan dari Prabu Brawijaya V yang mengungsi ke mataram. Beliau mempunyai hubungan kekerabatan dengan Ki Ageng Gribig atau Wasibagena Alit (putra dari Bandara Putih atau Ki Ageng III dan Putri Lembah atau Nyai Ageng Giri III) yang dimakamkan di Jatinom Klaten.
Bandara Putih ini adalah putra Jaka Dolog dan Jaka Dolog adalah putra Prabu Brawijaya V raja terahkir kerajaan Majapahit. Sedang Putri Lembah adalah putri Sunan Giri II dan Sunan Giri II ini adalah putra dari Wasibagena atau Sunan Giri I yang semula bernama Pangeran Guntur. Pangeran Guntur ini adalah seorang diantara ke III putra Prabu Brawijaya V. dengan demikian antara Wasibagena Alit dengan Ki Ageng Wonolelo adalah satu keturnan yaknin sama-sama keturunan Prabu Brawijaya V raja kerajaan Majapahit terahkir.

B. Tempat penyelenggaraan upacara
Mengenai latar belakang social budaya desa Widadamartani, di sini akan diketengahkan tentang sejarah atau cerita adanya tenpat yang disebut Wonolelo. Sejarah tempat Wonolelo konon mengambil nama seseorang yang dianggap sebagai cikal bakal desa tersebut yaitu Ki/Kiai Ageng Wonolelo. Sedangkan Ki/Kiai Ageng Wonolelo( Kyai Jumadigena) adalah keturunan dari Syeh kaki dan Syeh kaki merupakan keturunan dari Prabu Brawijaya V yang mengungsi ke mataram ke daerah Turgo setelah sebelumnya mengungsi dari pedukuhan karanglo dekat kota Gede, karena pada waktu itu Majapahit kalah dari kerajaan Demak. Nama “ Wonolelo “ diberikan karena pada waktu Ki Jumadigena masih tinggal di Turgo, apabila beliau melihat kea rah tenggara tampak adanya “wono”(hutan) yang “ngelela” (jelas, terang). Karena itu Ki Jumadigena kemudian datang ke hutan itu untuk membukanay (babad). Setelah hutan itu dibuka oleh Ki Jumadigena dijadikan sebagai tempat tinggalnya dan diberi nama “wonolelo”(hutan yang terang). Ditempat baru ini beliau mulai menjalankan tugasnya uuntuk menyebarkan ajaran agama Islam. Muridnya makin lama makin banyak. Untuk menampung murid-muridnya didirikanlah pondok sehingga sampai sekarang tempat ini dikenal sebagai “ pondok Wonolelo”
Sewaktu itu Kyai Ageng Wonolelo meninggal dan dimakamkan di desa itu juga. Kyai Ageng Wonolelo mempunyai peninggalan pusaka berujud : rasukan Gondhil, Bandril, Kitab suci Al Qur’an, Kopyah dan Tongkat. Sampai kini Untuk menghormati pusaka-pusaka itu setahun sekali diadakan upacara saparan. Masyarakat setempat pada umumnya menyambut upacara tradisi ini dengan rasa bangga dan bersyukur, karena dengan adanya tradisi itu mereka dapat ikut melestarikan tradisi dan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh nenek moyangnya.

C. Nama upacara dan tahap-tahapnya
Upacara itu disebut Saparan sebab pelaksaaan upacara harus jatuh atau berkaitan dengan bulan sapar. Keharusan ini sudah naluri sejak diperintahkannya untuk mengadakan upacara tersebut. Upacara itu diadakan atas perintah Pangeran Mangkubumi yang kelak bertahta menjadi raja pertama Yogyakarta.
Mengenai kata saparan itu sendiri berasal dari kata sapar dan ahkiran an. Kata sapar identik denagn ucapan kata arab Syafar yang berarti bulan arab yang kedua. Kemudian kata syafar yang identik dengan kata sapar itu menjadi salah sebuah nama bulan Jawa yang kedua dari jumlah bulan yang ke 12 itu. Selanjutnya akhiran an di sini membentuk nama benda. Jadi saparan ialah upacara selamatan yang diadakan setiap bulan Sapar.
Tidak seperti dalam penyelenggaraan upacara daur hidup dalam upacara Saparan Wonolelo ini tidak dikenal tahapan upacara yang disertai dengan istilah-istilah khusus untuk menyebut tahapan upacara. Hanya di sini dapat dilihat bahwa dalam rangkaian penyelenggaraan ini diatur melalui tahap-tahap tertentu yakni tahapan sebagai pertanda bahwa upacara Saparan Wonolelo itu dimulai sampai berahkirnya upacara. Demikian tahapan upacara Saparan Wonolelo itu adalah sebagai berikut :

 Tahapan pertama yang menandai bahwa upacara itu dimulai adalah “tahlilan”. Tahlilan ini diikuti oleh beberapa orang (khusus laki-laki) yang berpakaian kejawen yang mewakili atau sebagai utusan dari kelompok-kelompok yang ada di pedukuhan Pondok Wonolelo.
 Tahapan kedua adalah mengarak pusaka Ki Ageng Wonolelo dari tempat tahlilan ke makam Ki Ageng Wonolelo.
 Tahapan ketiga adalah penyerahan pusaka Ki Ageng Wonolelo di makam Ki Ageng Wonolelo. Dalam hal ini yang menerima penyerahan pusaka itu adalah juru kunci makam Ki Ageng Wonolelo.
 Tahapan keempat adalah pembacaan riwayat singkat Ki Ageng Wonolelo oleh seorang keturunan yang ditunjuk oleh trah Ki Ageng Wonolelo.
 Tahapan kelima adalah tabor bunga (nyekar) dimakam Ki Ageng Wonolelo dan Nyi Ageng Wonolelo yang dilakukan oleh seluruh keturunan Ki Ageng Wonolelo yang kemudian diikuti para peziarah lainnya.
 Tahpan yang keenam adalah membawa kembali pusaka-pusaka Ki Ageng Wonolelo ke Tempat semula, yang dilakukan setelah nyekar.
 Tahapan terahkir yakni pembagian apem yang dilakukan oleh keluarga trah Ki Ageng Wonolelo kepada para peziarah. Setelah itu diadakan wungon ( tidak tidur semalam suntuk) sampai saat subuh tiba, baik oleh trah Ki Ageng Wonolelo maupun para peziarah lainnya. Apem yang juga disertakan sebagai kelengkapan dalam upacara ini melambangkan perlindungan atau pengayoman leluhur kepada anak cucu keturunanya. Maksudnya anak cucu ini agar terhindar dari segala macam gangguan gaib dan selalu memperoleh keselamatan ketentraman dan bahagia dalam hidupnya. Hal ini sebenarnya dialami sendiri oleh kaum kerabat keturunan ki ageng Wonolelo yang tinggal di pondok wonolelo.

D. Maksud dan tujuan upacara
Maksud dan tujuan upacara saparan Wonolelo yang diselenggarakan oleh penduduk pedukuhan Pondok Wonolelo itu antara lain ialah :
 Untuk mengenang atau mengingat kembali leluhur mereka yang menurunkan merka, terutama keturunan Ki Ageng Wonolelo. Disamping itu juga mengenang jasa dan kebesaran Ki Ageng Wonolelo sebagai penyebar agama Isalam, khususnya di Pondok Wonolelo dan daerah Yogyakarta bagin utara umumnya.
 Untuk mengumpulkan anak keturunan Ki Ageng Wonolelo yang tergabung dalam organisasi kekerabatan trah Ki Ageng Wonolelo yang tersebar di hamper seluruh kawasan Yogyakarta dan sekitarnya.
 Untuk mohon perlindungan dan barokah-Nya agar masyarakat pedukuhan Pondok Wonolelo dan anak keturunan Ki Ageng Wonolelo dijauhkan dari segala macam gangguan gaib yang sekiranya mendatangkan petaka masyarakat. Melalui upacara ini anak keturunan Ki Ageng Wonolelo di pedukuhan Pondok Wonolelo dan di mana saja mereka berada selalu diberi hidup tentram, bahgia, kesejahteraan dan keselamatan dalam lindungan kebesaran-Nya.

Dari maksud dan tujuan diselenggarakannya upacara Saparan Wonolelo itu diharapkan, terutama dikalangan muda anak keturunan Ki Ageng Wonolelo agar dapat mewarisi “nilai-nilai” ajaran Ki Ageng Wonolelo yang besar dan luhur lewat agama Islam.

E. Pantangan – pantangan yang perlu ditaati Dan Makna yang terkandung dalam simbol-simbol upacara
Dalam pelaksanaan upacara Saparan Tradisonal Saparan Wonolelo, terutama pada saat dilakukan pengarakan pusaka Ki Ageng Wonolelo diberlakukan ketentuan-ketentuan yang merupakan larangan atau pantangan-pantangan bagi mereka yang terlibat langsung. Pantangan yang dimaksud adalah tidak boleh berbicara selama upacara berlangsung ; yang orang setempat menyebutnya dengan istilah “tapa mbisu”, ini dilakuakn dari saat upacara pengarakan pusaka-pusaka Ki Ageng Wonolelo berangkat dari rumah kepala desa Widadamartani sampai makam Ki Ageng Wonolelo. Begitu pula pada waktu membawa kembali pusaka Ki Ageng Wonolelo ke rumah Kepala Desa Widadamartani.
Pantangan lain yang harus dipenuhi dan ditaati di antara mereka yang terlibat dalam upacara ini adalah tidak boleh berbicara kasar dan tidak senonoh selam Upacara berlangsung. Selama itu mereka Harus berbicara yang baik, agar upacara suci ini tidak ternoda tau tercemar oleh pembicaraan dan perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Ki Ageng Wonolelo.
Setiap kegiatan keagamaan seperti upacara dan selamatan mempunyai makna dan tujuan yang diwujudkan melalui simbol-simbol atau lambang-lambang yang digunakan dalam upacara dan selamatan itu. Simbol-simbol ini wujud konkritnya antara lain seperti bahasa dan benda-benda yang menggambarkan latar belakang, maksud dan tujuan upacara itu dan bisa juga lambang ini diwujudkan dalam bentuk makanan-makanan: yangdalam selamatan adalah saji-sajian atau sajen.
Disamping lambang-lambang atau symbol-simbol tadi dalam upacara Saparan pengarakan Pusaka Ki Ageng Wonolelo ini juga disertakan tumpeng robyong dan bunga-bungaan sebagaimana lazimnya kelengkapan upacara-upacara dan selamatan lainnya. Pada umumnya tumpeng robyong ini melambangkan manifestasi yang meggambarkan manunggalnya “kawula” dan “Gusti” yang menciptakan manusia, alam dan seisinya. Lambang tumpeng ini memberikan pesan hendaknya manusia selalu ingat kepada Gusti Yang Memberikan Hidup dan jasad seisinya untuk hidup manusia itu sendiri.
Adapun bunga-bungaan yang disertakan pula dalam upacara ini adalah memberikan symbol keharuman Ki Ageng Wonolelo yang dalam perjuangannya selalu ditujukan untuk kepentingan manusia. Ibarat tiada cacat usaha ajaran agama yang dianutnya, yaitu agama Islam. Budinya yang luhur hendaknya dapat diwarisi oleh anak cucu keturunannya. Demikian harum wanginya bunga-bungaan ini menandakan budi Ki Ageng Wonolelo yang mempunyai nilai luhur.

F. Saparan Pondok Wonolelo Ngemplak, Sleman Sebagai Permesatu Bangsa
Dari keterangan ditas dapat dijelaskan bahawa simbol-simbol yang dibawa dalam upacara itu merupakan gambaran hubungan antar individu-individu secara pribadi yang dilembagakan sebagai norma-norma yang dinilai tinggi, norma-norma yang harus dihormati bersama. Sebab norma-norma ini merupakan consensus bersama dari sebagian besar warga masyarakat yang dinyatakan sebagai pedoman tingkah laku warga Masyarakat. Dalam hal sebagai permersatu bangsa upacara ini menyatukan kembali dimana trah dari Ketrunan Ki Ageng Wonolelo yang berada terpisah-pisah di tempat lain, dalam kesempatan upacara ini trah Keturunan Ki Ageng Wonolelo dapat berkumpul lagi untuk bertemu dalam upacara ini. Dari warga tempat lain juga berkumpul untuk mengikuti upacara ini hal ini juga mencerminkan bahwa upacara adat seperti Saparan Pondok Wonolelo yang diadakan pada bulan sapar yaitu bulan kedua dalam bulan jawa dan arab, di daerah Ngemplak, sleman sebagai permesatu bangsa.


























BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Dalam setiap makna upacara keagamaan pasti ada maksud yang tertuang simbol-simbol yang mewakili tujuan dari diadakannya upacara Adat tersebut. Makna yang terkandung didalamnya, misalnya sebagai alat untuk mengingat kembali jasa leluhur, sebagai sarana untuk meminta berkah dan rahmat dari ALLAH SWT, bahkan upacara adat Saparan Pondok Wonolelo ini juga sebagai permesatu bangsa karena dalam ritual upacara ini dikuti oleh kalangan dari trah Keturunan Ki Ageng Wonolelo maupun bukan dari kalangan trah Keturunan Ki Ageng Wonolelo.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar