omah kucink

Minggu, 21 Maret 2010

MAKNA KEBEBASAN BAGI GENERASI MUDA DALAM DEMOKRASI




MAKNA KEBEBASAN BAGI GENERASI MUDA DALAM DEMOKRASI

Dalam hal ini generasi muda dalam pandangan saya adalah mahasiswa , karena mahasiswa adalah siswa yang tingkatannya paling tinggi. Kebebasan didalam generasi muda seperti mahasiswa mendambakan Indonesia menjadi Negara yang demokrasi.

Di dalam azasnya Indonesia menganut azas Demokrasi. Tapi dalam kenyataannya Demokrasi hanya jadi sebuah mimpi dari Zaman Orde Lama, Orde Baru bahkan sampai sekarang ini. Hal ini diduga terjadi karena terjadinya system pemerintahan yang kurang sehat yang dimulai dari dalam peralatan pemerintahan, militer.

Di dalam sebuah buku yang berjudul “MILITER DAN GERAKAN PRO DEMOKRASI” dengan penulis Cholisin. Penulis disini tertulis lahir di kota kecil Bumiayu,Brebes,Jateng pada tanggal 1 agustus 1955. penulis adalah seorang dosen di Fakutas Ilmu Sosial di Universitas Negeri Yogyakarta sejak tahun 1985, tetapi sejak September 2001 sampai sekarang penulis sedang melakuakan kegiatan di Bahan Pelatihan dan Instruktur TOT (Training of Trainers) pada pelatihan terintegrasi mata pelajaran PPKn, Direktorat SLTP Dirjen Dikdasmen.1

Saya disini menggunakan buku beliau sebagai acuan dalam penulisan ini, karena di dalam buku ini banyak mengacu dalam hal Demokrasi dan memperjuangkannya.


1.Cholisin, Militer dan Gerakan ProDemokrasi.Hal. Biodata penulis 185

Seperti di dalam bukunya Cholisin,pada hal 120 menulis. Aspinal menggambakan gerkan mahasiswa pada akhir 1980 dan awal 1990 berkonsentrasi pada isu-isu local. Mahasiswa memihak rakyat miskin yang dipaksa meninggalkan tanah mereka dan memprotes kasus-kasus lokal dalam hal korupsi dan kerusakan lingkungan.2

Bonar Tigor Naipospos tokoh mahasiswa terkemuka yang aktif dalam kelompok-kelompok studi di Yogyakarta dan editor sebuah penerbitan Human Rights Register yang pada tahun 1990 dihukum delapan tahun enam bulan penjara diberi pembebasan bersyarat pada Mei 1994 menggambarkan gerakan mahasiswa 90-an lebih rinci. Bonar mengemukakan sampai pertengahan 1990 aksi protes mahasiswa secara beruntun tetap muncul dan isu yang diangkat secara umum berada dalam dua tataran.

Pertama, mengenai demokratisasi dan HAM. Isu ini berkaitan dengan persoalan kelas menengah perkotaan yang menginginkan terciptanya good governmence , kebebasan berpendapat dan berserikat , adanya kepastian hukum, serta kelancaran pembangunan.

Kedua, mengenai tanah, lingkungan hidup, dan perubahan. Ketiga, terkait dengan kepentingan konkret rakyat bawah khususnya kaum marjinal perkotaan dan petani pedesaan dan massa rakyat yang menginginkan untuk membangun blok perlawanan bersama. Idealisasi gerakan mahasiswa tahun1990 menurut Bonar adalah berjuang bersama rakyat.

Bagi mahasiswa rakyatlah yang paling berhak menjdi actor dan penentu perubahan. Mahasiswa berada di belakang dan sekedar mitra atau pendukung dalam pengorganisasian aksi.


2.Uhlin, oposisi…., hlm. 109
Tujuannya adalah memulihkan dan membangkitkan kepercayaan diri rakyat yang porak poranda akibat depolitisasi dan deiodologisasi agar dapat mempertahankan dan memperjuangkan hak-hak individu dan sosialnya.3

Aktivis GM 98 (Gerakan Mahasiswa 1998) Eko Prasetyo menggambarakan jika awal-awal tahun 1990 aktivitas mahasiswa dalam GM senantiasa “menjemput bola” terhadap isu-isu di sektor bawah dengan pembentukan komite advokasi dan
organisasi independent maka fase-fase belakangan lebih aktif dan cepat menangkap serta memahami isu kemudiaan meresponsnya.

Perkembangan dinamika politik medium tahun 1990 mengalami akselerasi luar biasa. Peristiwa 27 juli 1996 menunjukan bangkitnya perlawanan rakyat,koalisi demokratik mahasiswa dengan LSM serta kelompok oposisi radikal. Eko juga melihat organisasi – organisasi mahasiswa tahun 1990 berkembang dengan semangat mendekonstruksi koporatisme Orde Baru dalam komite seperti SMID (Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi) dan dalam bentuk organisasi prodemokrasi seperti FAMI,AJI,SBSSI dan ALDERA.4

Arief Budiman melihat gerakan mahasiswa tahun 1998 adalah bintang lapangan gerakan mahasiswa tahun 1990 bagi terjadinya proses reformasi dan tergulirnya dictator yang berkuasa lebih dari 30 tahun dan lebih memiliki keberanian dan lebih mandiri dari pada mahasiswa tahun 1966.

Arief mengatakan bahwa Korps Marinir bersimpati pada mahasiswa 1998 tetapi simpati tersebut sangat jauh beda dari perlindungan langsung yang diberikan RPKAD dan Kostrad terhadap mahasiswa tahun 1966.


3.Bona Tigor NaiPospos, “ Mahasiswa Indonesia dalam Panggung Politik: Kearah Gerakan Rakyat ?”, prisma 7juli 1996, hlm. 32.
4.Eko Prasetyo,”Elitisme Menuju Populisme:Pilihan Strategis Gerakan Mahasiswa Indonesia Era-9098”,epilog dalam Arbi Sanit , Pergolakan Melawan Kekuasaan : Gerakan Mahasiswa Antara Aksi Moral dan Politik,(Yogyakarta :kerjasama Pustaka Pelajar Dengan INSIST,1999) hlm. 182-183
Korps Marinir tidak terbukti membela mahasiswa ketika mereka ditembaki pada bulan Mei dan pada bulan November 1998.5

Kemudian pada tanggal 14 Desember 1993 sekitar 200 aktivis mahsiswa yang tergabung dalam jaringan FAMI berdemonstrasi di depan parlemen. Mereka menuntut diahkirinya “pendekata keamanan” bagi masalah – masalah social dan berpendapat presiden Soeharto bertanggung jawab atas berbagi penyelewengan HAM.

Salah satu slogan mereka berbunyi “Seret Presiden ke hadapan SI MPR!” Demonstrasi ini berlangsung selama beberapa jam karena tiba-tiba dibubarkan militer. Hal tersebut mengakibatkan beberapa mahasiswa terluka dan dua puluh satu orang ditangkap. Selama pengadilan terhadap dua puluh satu orang mahasiswa tersebut di pengadilan dan kampus-kampusdi seluruh Indonesia terjadi Demonstrasi. Kedua puluh satu mahasiswa tersebut masing – masing dihukum enam bulan penjara dan belakangan ini meningkat menjadi delapan hingga empat bulan oleh pengadilan Negeri Jakarta.6

Kutipan diatas menggambarkan betapa kebebasan untuk menyatakan aspirasi rakyat dulu sangat di batasi, dan pada pemerintahan sekarang ini kebebasan nampaknya sudah lebih di perhatikan lagi .

Di Buku Cholisin ini membuktikan adanya kekangan kebebasan pada Zaman Orde sebeleum Reformasi, Aktivis mahasiswa yang sering menjadi sorotan militer pada pertengahan 1990 – an adalah SMID (Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi). SMID adalah motor utama aksi demokrasi di solo bersama PPBI (Pusat Perjuangan Buruh Indonesia) menggerakan unjuk rasa menyambut Hari Buruh 1 Mei 1995 di Semarang.7

Meskipun Kasum ABRI Letjen TNI Soeyono tidak menuduh secara tegas bahwa SMID termasuk OTB namun dari pernyataan tentang indikatornya sulit di bantah mengarah pada SMID dan seperti organisasi lain seperti PP dan KPO-PRD.
5.Arbi,Pergolakan Melawan …,hlm.pengantar vii-xi
6.Uhlin,Oposisi …,hlm. 111
7.”Di sisni Anak Eks PKI diterima”Gatra , 28 Oktober 1995,hlm. 24.
Soejono menyatakan bahwa diantara OTB adalah organisasi yang memakai kedok mahasiswa dengan dalih solidaritas. Merka tergabung dalam Organisasi massa pemuda dan mahasiswa yang berbau kekiri-kirian, radikal , dan menampung anak-anak eks PKI. Mereka kemudian bereaksi dan satu diantaranya menyiapkan sebuah deklarasi oposisi.8

Ketua bakorstanasda Lampung Kol.Inf.A.Sanusi menuturkan Andi Arif ketua SMID pusat pada bulan Agustus 1996 telah ditangkap aparat keamanan Yogyakarta.9 Andi Arif termasuk korban penculikan terhadap para aktivis.

Pada ahkir 90-an (1998) gerakan mahasiswa meningkat karena ada keinginan kuat perlunya perubahan politik termasuk suksesi kepemimpinan nasional. Pada tahun 1997 banyak terjadi kerusuhan baik yang terkait dengan pesta pemilu (kerusuhan di Banjarmasin), perlawanan terhadap pemerintah (Tanah Abang) maupun yang berbau SARA (Rengasdengklok). Ketika terjadi gerakan massa pada tahun 1998 pihak militer mengantisipasi kemungkinan terjadi kerusuhan dengan mengerahkan aparat keamanan untuk mengamankan SU MPR 1998 (1 Maret – 11 Maret) yang berjumalah 25 vribu personil ABRI (2 kali lipat dari SU MPR 1993). SU MPR 1998 Berjalan tertib karena Pangdam Jaya Mayjen TNI Sjafire Sjamsuddin selaku Panglima Komando Operasi Pengamanan SU MPR tidak hanya mempersiapkan pasukannya tetapi juga melarang segala bentuk unjuk rasa di jalan.10

Ketika SU Berlangsung (5 Maret) 20 Mahasiswa UI mendatangi F-ABRI di MPR. Ketika itu Kassospol ABRI Letjen TNI Yunus Yosifah menyatakan diterimanya Mahasiswa oleh F-ABRI dalam Situasi SU MPR merupakan langkah maju karena dulu belum tentu mahasiswa ditreima di ruangan tresebut.11

Jadi dalam hal ini kebebasan generasi muda dalam berbagai hal bermakna bebas dalam perbuatan , pikiran yang tanpa di batasi dalam mengeluarkan ataupun
8. .”Di sisni Anak…” hlm. 24-25
9.”Dita Akui Dua Kali Ke Australia “,Republika , 1 Agustus 1996 hlm.20
10.forum keadilan , No.25, th.VI,23 Maret 1998,hlm.10.
11.”Demo marak Kampu Bergerak”, Forum Keadilan ,No.25, Th. VI,23 Maret 1998, hlm 20.


menumpahkan unek-uneknya,dengan catatan Positif dan bisa dipertanggung jawabkan agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar