omah kucink

Minggu, 21 Maret 2010

Pergeseran Agama pada Masa Pemerintahan Tokugawa Ieyesu (1603-1868)



Agama Budhha masuk ke Jepang sekitar abad ke-5. ajaran agama Budhha di Jepang mempercayai dewa matahari atau dikenal dengan nama Amaterasu sebagai dewa tertinggi yang dianggap sebagai penjelmaan Budhha Daichi Nyorai. Agama Budhha di Jepang yang paling terkenal adalah ajaran Budhha Zen yang diserap dari China. Sama seperti agama Budhha di seluruh dunia, kitab suci agama Budhha di Jepang adalah tripitaka. Sedangkan tempat ibadahnya adalah kelenteng/kuil. Kuil Budhha dalam bahasa Jepang disebut o-tera atau ji, ada juga yang menyebut dengan nama –in walau sangat jarang. Beberapa kuil Budhha yang sangat terkenal di Jepang antara lain Horyuu-ji di Nara.
Ciri utama dari arsitektur kuil Budha adalah bangunannya yang mirip bangunan tradisional Jepang. Terdiri dari tiang kayu yang tinggi dan tebal, di mana setiap tiang menyangga sebuah besi besar untuk menahan bangunan kuil. Atap kuil-kuil Budha di Jepang berbeda satu sama lain, namun pada umumnya dipasang berdasarkan konsep atap bertumpuk. Kuil-kuil tua di Jepang kini atapnya sudah dirombak mengikuti desain modern, sedangkan atap kuil-kuil yang baru kebanyakan dipasang dengan atap gaya modern yang lebih datar. Setiap kuil Budha memiliki 3 bangunan dasar, yaitu sebuah tou [pagoda] dengan tiga atau lima tingkatan, sebuah kondo/honden berupa halaman utama yang sangat luas yang terletak di depan kuil, dan sebuah kodo [ruangan utama biara].
Agama Shinto muncul di Jepang pada abad ke-6 yang dianggap sebagai agama asli orang Jepang. Nama Shinto berasal daro huruf kanji kami [dewa/tuhan] dan michi [jalan] yang pelafalannya diserap dari bahasa mandarin menjadi shin dan tou, yang artinya “Jalan dewa/tuhan”. Ajaran agama Shinto sendiri mengacu pada kepercayaan konfusianisme di China. System kepercayaan yang dianut agama ini animisme karena mempercayai banyak dewa. yang paling banyak disembah umat Shinto adalah dewa matahari Amaterasu. Karena itu ajaran agama Shinto pun memuja kaisar Jepang yang dianggap keturunan Amaterasu. Berbeda dengan agama lain, dalam agama Shinto tidak ada ajaran yang pasti, tidak ada tempat ibadah khusus, tidak ada dewa yang benar-benar dianggap paling suci, dan tak ada cara yang pasti bagaimana penyembahan.
Agama Shinto dibagi menjadi 4 bagian, yaitu jinja-shinto [Agama Shinto tertua yang menjadi pedoman tradisi Shinto masa kini], shuuha-shinto [Agama Shinto yang berkembang sejak abad 19. mereka tidak memiliki tempat ibadah, namun suka melakukan pemujaan pada kami di gunung, seprti gunung Fuji], minzoku-shinto [Agama Shinto yang mempercayai roh, dewa, dan cenayang. Suka melakukan upacara pemasukan dan pengusiran roh], serta kokka-shinto [Agama Shinto yang hanya berkenmbang pada periode Meiji, di mana kaisar dianggap sebagai tuhan].

Pemerintahan keShogunan Tokugawa selama zaman Edo (1603-1868), pada masa Tokugawa, jepang didominasi oleh paham buddhisme yang ditetapkan sebagai agama resmi negara. Namun demikian Shintoisme sebagai agama asli bangsa jepang tetap dilaksanakan upacaranya. Pada masa ini rakyat Jepang menikmati masa yang penuh dengan ketentraman dan kedamaian.
Pemerintahan Tokugawa melakukan pengawasan terhadap agama Buddha dan mempergunakannya untuk tujuan memelihara tatatertib sosial maupun kehidupan spiritual kehidupan bangsa, setiap penduduk diharuskan mencatatkan diri di kelenteng-kelenteng.
Kebijaksanaan tersebut dimaksudkan selain untuk memantau perkembanagan agama Buddha, juga dimaksudkan untuk sensus penduduk. Kegiatan-kegiatan seperti perkawinan, perpindahan kerja, perjalanan, kelahiran dan kematian juga harus dilaporkan di kelenteng. Dengan demikian di samping tugas keagamaan, kelenteng juga menjalankan tugas pemerintahan .
Pada masa pertengahan jaman Tokugawa muncul aliran “Fukko Shinto” atau disebut juga “Reformasi Shinto”. Tujuan utama dari reformasi Shinto adalah meneliti kembali agama Shinto yang asli. Namun dalam penelitian tersebut pada umumnya digunakan metode dan cara berpikir dari Buddhisme dan konfusianisme, maka hasil- hasilnyapun lahirnya Shinto baru yang bercorak Budhhisme dan konfusianisme.
Pada tahun 1608, hubungan diplomatis antara Holland (Belanda) dengan Jepang dimulai. Kebijakan Jepang ketika itu selain untuk membatasi pekerjaan misionaris Kristen juga untuk memajukan perdagangan. Spanyol dan Portugis dipaksa untuk meninggalkan pelabuhan masuk mereka (Dejima) di Nagasaki, karena mereka menyiarkan kekristenan di balik pelayanan kesehatan dan juga mereka diisukan sedang berusaha untuk menguasai Jepang.
Tokugawa Ieyasu yang berkuasa pada tahun 1600 pada mulanya masih berniat untuk bersikap toleran terhadap kehadiran para misionaris. Hal ini disebabkan dia mengharapkan sejumlah keuntungan melalui perdagangan yang dijalin dengan Portugis. Akan tetapi kedatangan kaum protestan Belanda dan para pedagang Inggris membuat dia bersikap lebih bebas untuk tidak bergantung pada pedagang Portugis. Akhirnya ia beralih haluan mengikuti pendahulunya menentang kekristenan. Pada tahun 1614 kemudian Tokugawa memerintah para misionaris untuk meninggalkan Jepang, kebanyakan dari mereka diusir akan tetapi 40 diantaranya, termasuk penginjil keturunan Jepang tetap tinggal untuk melanjutkan pekerjaan mereka di bawah tanah.
Pada tahun 1612, Tokugawa Ieyesu menunjukkan arah anti Kristen setelah insiden yang terjadi di Madre de Deus. Alasan Keshogunan Tokugawa membuat kebijakan anti-kristen tampak secara kompleks dalam ‘Pengusiran terhadap Bateren’ yang disusun oleh Biksu Zen yang bernama Konchin Suden di Iegasu pada tanggal 1 Februari 1614.
Kemudian Tokugawa Iemitsu mengeluarkan Edik Sakoku pada tahun 1635, yang merupakan edik ketiga yang dikeluarkan sejak tahun 1623 sampai tahun 1651. Dengan munculnya edik ini, ditutuplah Jepang atas hubungan dengan dunia luar. Ini adalah salah satu dari banyak keputusan yang ditulis oleh Iemitsu untuk menghilangkan pengaruh Katolik, dan memaksakan aturan pemerintah. Edik ini ditulis pada dua pemimpin di Nagasaki, sebuah kota pelabuhan yang terletak di sebelah utara Jepang.
Alasan utama yang kemudian membuat Jepang menutup hubungan mereka secara penuh adalah perhatian pemerintah untuk menerapkan kendali penuh atas rakyatnya. Hal ini tidak akan mungkin terjadi jika ada interfensi dari agama Kristen yang pada saat itu sangat aggresif dan tidak toleran terhadap masalah yang ada. Sebagai dampak dari keluarnya edik ini maka selama periode penyiksaan Iemetsu di tahun 1622, 51 orang Kristen dibunuh di Nagasaki. Dan dua tahun kemudian 50 orang dibakar hidup-hidup di Edo (sekarang Tokyo). Totalnya sebenarnya ada 3000 orang, jumlah ini belum termasuk pada orang-orang yang mati karena penderitaan yang mereka alami di penjara. Dan pada tahun 1633 sebanyak 30 misionaris dibunuh dan pada tahun 1637 hanya 5 orang yang dapat hidup bebas.
Tokugawa Ieyasu merupakan sekutu paling berkuasa kepada Hideyoshi semasa zaman Sengoku Jidai (zaman peperangan pada 1460 – 1573M). Namun, ketika era pemerintahan Tokugawa, feaudalisme telah dilancarkan oleh beliau dengan meletakkan diri sebagai Pemerintah Seluruh Jepang. Di bawahnya pula di tempati oleh samurai yang mendapat hak keistimewaan yang lebih dari rakyat biasa. Di zaman itu, hanya samurai yang mempunyai kuasa untuk membawa pedang. Kemudian di ikuti oleh Petani, Petukang dan terahkir golongan saudagar.
Di zaman ini juga, Kesyogunan Tokugawa telah melaksanakan pengisolasian Jepang dengan menlaksanakan dasar pintu tertutup. Walaupun begitu, keamanan dan kestabilan berlangsung hampir 200 tahun di bawah pemerintahan beliau. Namun, segalanya berkahir apabila kekangan ekonomi dan inflasi yang terus melanda Jepang di sebabkan oleh kegagalan sistem pertanian. Ketika itu juga, kewibawan para samurai jatuh di sebabkan terpaksa berhutang dan ini menyebabkan kekuasan golongan saudagar semakin meningkat. Keadaan ini telah mengubah kedudukan mereka di dalam status feudal Jepang ketika itu.
Di samping itu juga, kapal Amerika Syarikat yang dipimpin oleh Komodor Matthew Calbraith Perry yang berlabuh di Teluk Tokyo pada 1853 dan juga pada 1854 telah berjaya mendesak Jepang membuka pintu sempadan mereka kepada orang asing dengan terbentuknya Perjanjian Kanagawa. Namun, keadaan menjadi tidak terkendali apabila terlalu banyak orang asing yang membanjiri tanah Jepang atas keinginan-keinginan tertentu. Ada juga pihak yang menentang Kesyogunan Tokugawa kerana merasakan adat dan kebudayaan asli mereka terancam dengan kehadiran orang asing.
Pada masa ahkir Tokugawa muncul rasa tidak puas terhadap pemerintah. Agama budhha memperoleh kesan buruk, dan perasaan anti budhha semakin meningkat, akibatnya banyak kelenteng-kelenteng ditutup dan pendetanya diharuskan meninggalaknnya. Namun di pihak lain bermunculan lembaga keagaman yang baru.
Agama-agama yang baru ini adalah agama kuno Jepang, yang telah mendapatkan reformasi pada jaman pertengahn Tokugawa. Agama ini adalah agama Shinto, yang pada saatnya mengilhami reformasi Meiji di jaman moderen.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar