omah kucink

Minggu, 21 Maret 2010

Modul VOC



KEBIJAKAN PEMERINTAHAN VOC DI INDONESIA



A. TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah selesai mengikuti kegiatan pembelajaran ini diharapkan:
• Siswa mampu menyebutkan masuknya kekuasaaan asing ke wilayah Indonesia.
• Siswa mampu mengemukakan terbentuknya VOC di Indonesia.
• Siswa mampu menjelaskan Politik dan Perkembangan VOC di Indonesia
• Siswa mampu menjelaskan proses dan bentuk perlawanan di berbagai daerah Indonesia dalam menentang dominasi VOC.
B. PETA KONSEP


C. PENGANTAR
Setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis, ekspansi diteruskan ke Maluku dan sekitarnya. Yang menjadi sasarannya terutama daerah rempah-rempah. Pada tahun 1494 antara Spanyol dan Portugis telah di capai suatu kesepakatan yang membagi dunia ini menjadi dua daerah pengaruh mereka. Disebelah barat garis bujur 170°, yang melalui tanjung Verde, menjadi daerah kekuasaan dan pengaruh Spanyol, sedang di sebelah timur garis ini menjadi daerah kekuasaan dan pengaruh Portugis. Karena persetujuan ini di tandatangani di Tordesailas, maka lazim disebut perjanjian Tordesailas. Bangsa Indonesia waktu itu tidak dapat membenarkan anggapan ini, karena itu dimana-mana timbul perlawanan.
Dengan semboyan “mare Liberum”, yang artinya lautan adalah bebas untuk dilayari oleh siapa saja, maka Belanda pada tahun 1596 mendarat untuk pertama kalinya di Banten, dibawah pimpinan C. de Houtman. Pada tahun 1600 orang –orang Belanda sudah sampai di Maluku. Kedatangan mereka mula-mula disambut baik, karena orang-orang Maluku membutuhkan bantuannya untuk mengusir orang-orang Portugis. Tetapi sambutan yang baik ini digunakan oleh belanda untuk memulai menancapkan kuku penjajahannya. Pada tahun 20 Maret 1602 mereka mendirikan V. O C. ( Verenigde Oost-indische Compagnie), persekutuan dagang Hindia Timur, yang lebih dikenal dengan kompeni Belanda. Pada tahun 1605 orang-orang Belanda mendirikan kantor dagangnya di Ambon. Namun J.P Coon pada tahun 1619 dipindahkan ke Jayakarta, yang kemudian mereka beri nama Batavia.
Selama lebih kurang dua ratus tahun lamanya VOC berusaha untuk merebut dan menguasai kerajaan – kerajaan di Indonesia. Selama kurun waktu itu VOC berhasil menguasai sebagian daerah-daerah di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Selatan. Selama itu pula VOC harus mengalami perlawanan-perlawanan dari bangsa Indonesia. Kecuali itu VOC hancur menghadapi pegawai-pegawai yang Korup. Maka pada akhir abad ke 18 runtuhlah VOC, yang menyebabkan bekas daerah kekuasaaanya di ambil alih oleh pemerintah Kerajaan Belanda. Sejak awal abad ke 19 daerah-daerah itu secara langsung ada dibawah pemerintahan Belanda. Perluasaan kekuasaaan yang telah dilakukan oleh VOC pada abad ke17 dan 18 diteruskan oleh penguasa Colonial Belanda.

D. MATERI PEMBELAJARAN
 Pertemuan Pertama
I. VOC DAN SISTEM KOLONIAL AWAL
Kolonialisme atau penjajahan adalah anak dari kapitalisme. Kapitalisme seperti juga feodalisme, pada mulanya adalah suatu cara berekonomi. Tetapi, berbeda dengan feodalisme di mana alat produksi dikuasai oleh raja, dalam kapitalisme alat produksi dikuasai oleh kapitalis atau pemilik modal,. Sedangkan para pekerja yang memakai alat produksi, bebas bekerja pada setiap pemilik modal (kapitalis). Ia disini tidak harus bekerja mengabdi atau berbakti pada raja secara cuma-cuma. Ia beekerja pada pemilik modal sebagai buruh yang dibayar upah uang. Kapitalisme, sebagai cara berekonomi , muncul pertama kali di Eropa Barat pada abad XVI-XVII, bersamaan dengan meluapnya tuntutan akan kebebasan dan persamaan yangmeledak pada masa Revolusi Perancis abad XVII di mana kekuasaan raja dan ratu digulingkan oleh kaum liberal.
Gambar 1.Ilustrasi peta Indonesia dan
sekitarnya abad 16an

Bukan hanya reaksi kaum kapitalis terhadap kaum feudal yang meruntuhkan system ferodal itu, tapi Revolusi Industri dan komersial pada abad XVI-XVII telah memacu proses produksi sedemikian rupa sehingga mematahkan rintanagn-rintangan yang berasal dari feodalisme.
Pada titik ini ekspansi wilayah oleh kaum kapitalis memainkan peranan penting. Di sini mulai terjadi penguasaaan-penguasaaan tanah-tanah jajahan. Ketika kepentingan bangasa-bangsa kapitalis utama mulai berkembang, mulailah dijalankan system colonial yaitu penaklukan dan penguasaaan rakyat bersama sumber daya ekonomi tanah jajahan menjadi bagian dari tujuan kekuasaan mereka.
Berbeda dengan kolonialisme “kuno”, yang bertujuan pengejaran kejayaan (glory), kekayaan (gold) dan semangat penyebaran agama (gospel), pada sistem kolonial kapitalis, kekuasaaan kolonial bertujuan pengambilan sumber bahan mentah dari tanah jajahan, penyediaan buruh murah pada perkebunan dan tanah jajahan sebagai pasar pembuangan hasil produksi kaum kapitalis. Sistem kolonial ini ditandai oleh 4 ciri pokok yaitu :
• Dominasi
• Eksploitasi
• Diskriminasi
• Dependensi
Prinsip dominasi terwujud dalam kekuasaaan golongan penjajah yang minoritas terhadap penduduk pribumi yang mayoritas. Domiasi ini pada dasarnya ditopang oleh keunggulan militer kaum penjajah dalam menguasai dan memerintah penduduk pribumi. Dominasi ini juga berlangsung dalam eksploitasi atau pemerasan sumber kekayaan tanah jajahan untuk kepentingan Negara penjajah, penduduk pribumi diperas tenaga dan hasil produksinya untuk diserahkan kepada pihak penjajah, yang kemudian oleh pihak penjajah itu dikirim ke Negara induknya untuk kemakmuaran mereka sendiri.
Ciri ketiga yaitu Diskriminasi atau perbedaan ras dan etnis. Golongan penjajah dianggap sebagai bangsa yang superior, sedangkan pribumi yang dijajah dipandang sebagai bangsa yang rendah atau hina. System colonial ini memakai pola diskriminasi untuk membentuk dan mempertahankan pola hubungan masyarakat yang menempatkan kaum penjajah di atas puncak kekuasaaan tata social masyarakat itu. Dengan demikian, dominasi kekuasaa penjajah makin diperkuat oleh hubungan sosial yang bersifat diskriminasi itu.
Ketiga ciri diatas telah menimbulkan jurang perbedaaan yang menyolok antara Negara penjajah dan masyarakat jajahan. Negara penjajah semakin besar dan kuat dalam hal modal, teknologi, pengetahuan dan kekuasaaan sedangkan masyarakat jajahan semakin miskin dan sengsara. Ini menimbulkan pola dependensi atau ketergantungan masyarakat jajahan terhadap penjajah. Masyarakat terjajah menjadi makin tergantung kepada penjajah dalam hal modal, teknologi, pengetahuan dan keterampilan karena mereka semakin lemah dan miskin.
Ketika kaum kolonial menjarah ke tanah jajahan, mereka menaklukan kaum feodal di tanah jajahan dengan keunggulan militernya. Mereka tidak menggulingkan kekuasaan kaum raja dan bangsawan feodal itu. Tetap sebaliknya, mereka memanfaatkan raja dan bangsawaaan feudal itu sebagai perantara mereka dengan rakyat tanah jajahan. Raja dan bupati tidak dicopot kekuasaaanya, tapi mereka dipakai untuk memungut hasil produksi rakyat atau petani untuk kemudian diserahkan kepada pihak penjajah.
Jadi kaum feodal yang sebelumya telah melakukan praktek-paraktek seperti itu makin diperkuat oleh kaum kolonial untuk kepentingan pihak penjajah. Kaum feodal tentu saja mau melakukannya, karena mereka tidak dicopot kekuasaanya. Tapi sebaliknya, rakyat petani semakin bertambah bebannya dan semakin menderita, karena mereka semakin diperas tenaga dan hasil produksinya. Apalagi pihak penjajah mempunyai tuntutan-tuntutan yang tidak dikenal dalam ikatan feodal, yaitu pihak kolonial meminta hasil-hasil pertanian yang dapat dijual di pasaran dunia. Ini merupakan suatu yang beda jauh dengan ikatan-ikatan feodal, di mana kaum feodal hanya menuntut upeti untuk kemegahan mereka sendiri.
Dengan demikian, kaum kolonial tidak merombak system pemerintahan feodal tapi mempertahankan system itu dengan memberikan kekuasaaan kepada para bupati dan raja untuk memungut hasil-hasil yang diminta pihak kolonial seperti tanaman untuk ekspor dan membiarkan para petani hidup dalam garis batas hidup berdasarkan pola pertanian tradisional. Dengan begitu, pola eksploitasi pada rakyat semakin intensif, karena rakyat petani harus memenuhi permintaan kepentingan bupati (sebagai penguasa Feodal) sendir, di satu pihak dan kepentingan kolonial di pihak lainnya.
Di Indonesia kaum penjajah masuk pertama kalinya dalam wujud armada dagang yang di tahun 1602 mereka membentuk suatu gabungan Perseroan Belanda atau sindikat dagang yang disebut VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie). VOC ini oleh pemerintah Belanda di beri hak ekslusif untuk berdagang , berlayar dan memegang kekuasaan di kawasan antara Tanjung Harapan dan Kepulauan Solomon.
Armada VOC datang ke Indonesia untuk melakukan pembelian rempah-rempah dengan mengadakan kontrak jual beli dengan pihak penguasa pribumi. Tapi , pada perkembangan selanjutnya VOC bertujuan menguasai perdagangan di indonsia dengan menyingkirkan perdagang- pedagang asing lainnya dan memaksa penguas-penguasa pribumi di Indonesia mengadakan Perjanjian jual-beli dengan mereka.
Pada mulanya dalam menghadapi kegiatan perdaganagan di Indonesia, VOC mengambil sikap menyesuaikan diri dengan pola dan sistem perdagangan yang berlaku , seperti dalam soal peraturan jual-beli, tawar-menawar dan penentuan harga. Salah satu komoditi perdagangannya adalah komoditi rempah-rempah yang menempati prioritas utama. Namun karena tujuannya kemudian hendak merebut kekuasaaan perdagangan di Indonesia dan Asia, maka VOC berusaha merebut monopoli perdagangan dari tangan raja atau pedagang pribumi. Untuk itu VOC membangaun pangkalan angkatan laut, pusat gudang perdagangan dan pusat pemerintahan yang menjadi basis aksi perang, diplomasi dan perdagangan.
Dalam usaha menguasai perdagangan dilakuakan dengan berbagai jalan, yaitu : melalui upaya penaklukan dengan kekuasaaan, melalui kontrak monopoli dan melakukan persetujuan atas perdagangan bebas. Namun yang terpenting dalam politik perdagangan VOC ialah, VOC selalu berorientasi pada pasaran di Eropa, sehingga langkah-langkah yang diambil di Indonesia sering berubah –ubah. Akibatnya , hal ini sering kali merugikan kepentingan rakyat pribumi yang harus berganti-ganti menanam dan menyediakan tanaman untuk kepentingan perdagangan VOC.
Perlu diketahui, setelah VOC menaklukan suatu daerah, VOC tidak mengambil alih kekuasaaan para raja. Tapi , VOC lebih menekankan tuntutan pengakuan kekuasaaanya dalam bentuk penyerahan produk pertanian dari penduduk yang dikuasainya melalui raja atau kepala pribumi yang diakuinya. Bentuk penyerahan produksinya itu ditetapkan dalam dua sistem yaitu sistem Leveransi atau penyerahan wajib dan sistem Kontingensi atau penyerahan barang dengan jumlah yang ditentukan oleh VOC.
Sistem Leveransi atau penyerahan wajib berupa penyerahan barang-barang yang jumlahnya berubah-ubah dan dibeli dengan harga tertentu. Adapun Kontingensi berupa penyerahan barang-barang yang diwajibkan dalam jumlah yang ditetapkan (kuota), dengan mendapat pembayaran kembali, tapi dalam jumlah sedikit atau bahkan tidak dibayar sama sekali. Kedua sistem ini dikenakan pada suatu daerah atas berbagai dasar yaitu : penaklukan, perjanjian atau kontrak antar kedua belah pihak.
Dalam hal ini yang paling dirugikan bukanlah raja, bupati atau bangsawan lainnya, karena raja-raja dan penguasa pribumi itu menyerahkan lagi kewajibannya kepada rakyat petani yang harus menyediakan kebutuhan VOC. Dan sering kali dalam sistem Leveransi dan Kontingensi, raja-raja dibayar oleh VOC, tapi kemudian raja-raja tidak membayar lagi pada rakyat petani karena usaha petani dipandang sebagai kewajiban bakti pada raja dalam sistem feodal.
Dalam rangka meningkatkan pendapatan dari sistem penyerahan Wajib VOC tidak hanya berusaha memperbesar Jumlah penyerahaan wajib atas komoditi perdaganagan yang telah lama dilakukan , tapi di berbagai daerah VOC mengembangkan sistem penanaman wajib komoditi kopi. Yang terkenal adalah “ perkebunan kopi a la priyangan” .
Disini , kopi ditanam di kebun-kebun yang dibuat di tanah-tanah hutan yang belum dibuka, yang dikerjakan dengan menggunakan kerja paksa. Pelaksanannya diserahkan kepada para bupati dan dilakukan menurut sistem feodal. Melalui sistem paksa ini para petani diwajibkan untuk mengerjakan pekerjaan rodi untuk pembukaan lahan, penggarapan lahan, penanaman biji kopi, pemeliharaan dan pemanenan serta pengangkutan hasil produksi. Dari kopi yang diserahkan oleh penduduk petani setempat, kemudian bupati kemudian meneruskannya kepada pihak VOC dan pihak VOC kemudian membayarnya pada bupati. Menurut ketentuan bupati meneruskan pembayaran itu pad petani. Tapi , dalam kenyataanya terjadi praktek penyelewangan oleh bupati yang berakibat menyengsarakan petani penanam. Sistem Priyangan ini kemudian menjadi landasan penciptaan sistem tanam paksa pada 1830 oleh pemerintah kolonial belanda.
Disamping itu monopili dan pungutan paksa, sejak 1627, VOC juga menjual tanah kepada orang-orang partikelir (swasta). Tanah-tanah ini kemudian dikenal sebagai “tanah Partikelir”. VOC menjual tanah-tanah ini Karena terdesak oleh alasan keuangannya di negeri belanda. Penjualan tanah partikelir didasarkan atas hukum hak milik tanah mutlak termasuk penduduk didalamnya. Hak raja atas tanah beserta orang-orangnya ini berarti suatu hak atas tanah yang diswertai dengan kekuasaaan kenegaraaan. Dengan penjualan tanah kepada orang-orang partikelir, beralih pula kekuasaaan atas tanah beserta penduduknya ke tangan orang-orang partikelir itu yang kemudian menjadi tuan-tuan tanah.
Para tuan-tuan tanah ini berlaku sepeerti raja dan memiliki kekuasaaan untuk mengangkat kepala – kepala kampung, petugas keamanan serta memungut penghasilan dari penduduk dan berhak menggunakan tenaga penduduk secara bebas untuk kepentingannya. Bisa dikatakan bahwa tanah partikelir itu Negara dalam Negara. Didalam tanah partikelir terdapat pemerintahan perbudakaan oleh tuan tanah, yang penuh dengan penindasan dan pemerasan. Rakyat di tanah itu tidak memiliki hak apa-apa , hanya beban yang berupa pajak, cukai, penyerahan hasil, kerja rodi, dan lain-lain. Pada umumnya kepentingan rakyat di tanah partikelir itu sama sekali tidak diperhatikan.
Karena berbagai beban yang sangat memberatkan itu rakyat yang tinggal dalam wilayah tanah partikelir hidup sangat miskin dan menderita. Tidak jarang terjadi rakyat “mencuri” padi dari sawahnya sendiri sekedar untuk meringankan pajak atau terpakasa merampok dan membunuh karena dorongan untuk membela diri dan mengatasi rasa lapar.


II. MASUKNYA KEKUASAAN VOC DI INDONESIA
A. Terbentuknya VOC di Indonesia
Pada akhir abad ke 16 perairan di Indonesia bertamabah ramai dengan kedatangan pelayar-pelayar Belanda kedatangan mereka ki Indonesia didorong oleh dua factor yaitu factor ekonomi dan factor petualangan
Gambar2. jalur pelayaran di Asia




Dengan semboyan “Mare Liberum”, yang artinya lautan adalah bebas untuk dilayari oleh siapa saja, maka Belanda pada tahun 1596 mendarat untuk pertama kalinya di Banten, dibawah pimpinan C. de Houtman. Pada tahun 1600 orang –orang Belanda sudah sampai di Maluku. Kedatangan mereka mula-mula disambut baik, karena orang-orang Maluku membutuhkan bantuannya untuk mengusir orang-orang Portugis. Tetapi sambutan yang baik ini digunakan oleh belanda untuk memulai menancapkan kuku penjajahannya.
Pada tahun 1580 Portugal diduduki Spanyol. Semenjak itu maka orang-orang Belanda tidak dapat mengambil barang dagangan hasil dunia timur, terutama rempah-rempah ke pelabuhan –pelabuhan di Portugal. Sejak itu pedagang-pedagang belanda yang beragama Prostestan dilarang memasuki pelabuhan-pelabuhan Portugal untuk mengambil barang daganagan. Pada waktu itu memang sedang terjadi perang agama di eropa, disebabkan terutama munculnya aliran Protestanisme .
Demi mempertahankan hidup ekonominya, maka pedagang-pedagang Belanda harus berlayar sendiri langsung ke Indonesia. Oleh orang-orang Spanyol, jalan pelayaran ke Indonesia dirahasiakan. Hanya kecerdikan dan keberanian orang-orang Belanda berhasil menemukan rahasia perjalanan ke Indonesia dari pihak Portugis.
Gambar 3. bentuk bentuk kapal yang digunakan untuk ekspedisi

Pelayaran pertamanya dimulai dalam tahun 1595 dibawah pimpinan Cornelis de Huotman. Setelah sampai ditanjung Harapan, mereka mengambil jalan lurus ke timur tidak menelusuri Afrika dan India. Pada tahun 1596, setelah mereka berlayar selama 14 bulan , sampailah mereka ke Banten.

Gambar 4 ilustrasi kedatanagan Belanda di Banten.


Pada awalnya Sultan Banten dan rakyatnya menyambut baik kedatangan orang-orang Belanda. Namun setelah mereka memperlihatkan keserakahannya, antara lain untuk memaksakan monopolinya. Sultan dan rakyat Banten menjadi tidak senang. Usaha Belanda untuk memperoleh monopoli gagal . orang-orang Belanda meneruskan pelayaran ke timur meskipun dengan hasil yang minimal. Mereka hanya sampai di Bali, kemudian kemabali ke negeri Belanda.

Gambar 5 ilustrasi peta Indonesia abad 16an


Secara ekonomis pelayaran Belanda yang pertama tersebut memang tidak berhasil.. Akan tetapi hasil terbesar dari pelayaran ini adalah ditemukannya jalan pelayaran ke Indonesia.
Pada tahun 1598 ekspedisi kedua dikirim ke Indonesia. Kali ini Belanda memperlihatkan sikap yang sopan sehingga dapat memperoleh lada di Banten. Perjalanan ke timur di teruskan lewat Tuban, yang juga mendapat sambutan baik. Dari Tuban mereka melanjutkan ke Maluku, khususnya ternate yang sedang bermusuhan dengan Portugis. Oleh karena itu mereka dengan mudah menjalin persahabatan dengan Ternate untuk bersama-sama melawan Portugis. Dengan demikian Belanda dapat dengan mudah mengisi kapal-kapal dengan rempah-rempah dengan penuh.
Ekspedisi-ekspedisi Belanda diselenggarakan oleh perkumpulan dagang yang dibentuk sementara. Jumlah perkumpulan tersebut makin lama makin banyak, sehingga terjadi persaingan di antara mereka sendiri. Akibatnya mereka rugi sendiri.
Gambar 6. lambang VOC



Untuk menghindari persaingan dan permusuhan diantara mereka sendiri maka Jakob Van Oldebarnevelt seorang pemuka masyarakat Belanda yang sangat dihormati mempersatukan sejumlah perkumpulan dagang menjadi VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) (Perserikatan Perusahaan Hindia Timur) yang didirikan pada tanggal 20 Maret 1602 adalah perusahaan Belanda yang memiliki monopoli untuk aktivitas perdagangan di Asia. Perusahaan ini dianggap sebagai perusahaan pertama di dunia yang mengeluarkan pembagian saham.

Gambar 7. Sebuah saham Perusahaan Hindia Timur Belanda, tertanggal 7 November 1623, untuk jumlah 2.400 florin

Meskipun sebenarnya VOC merupakan sebuah badan dagang saja, tetapi badan dagang ini istimewa karena didukung oleh negara dan diberi fasilitas-fasilitas sendiri yang istimewa. Misalkan VOC boleh memiliki tentara dan boleh bernegosiasi dengan negara-negara lain. Bisa dikatakan VOC adalah negara dalam negara.
VOC terdiri 6 Bagian (Kamers) di Amsterdam, Middelburg (untuk Zeeland), Enkhuizen, Delft, Hoorn dan Rotterdam. Delegasi dari ruang ini berkumpul sebagai Heeren XVII (XVII Tuan-Tuan). Kamers menyumbangkan delegasi ke dalam tujuh belas sesuai dengan proporsi modal yang mereka bayarkan; delegasi Amsterdam berjumlah delapan. Di Indonesia VOC memiliki sebutan populer Kompeni atau Kumpeni. Istilah ini diambil dari kata compagnie dalam nama lengkap perusahaan tersebut dalam bahasa Belanda.
Gambar Pieter Both
Gubernur Jendral VOC pertama di Indonesia adalah Pieter Both. Dibwah pimpinannya, kegiatan VOC di Indonesia mulai diorganisasikan dan monopoli mulai dilakukan. Pertama-tama ia menentukan pusat kedudukan VOC di Ambon. Pilihan itu didasari pertimbangan bahwa dari Ambon kegiatan untuk menerapkan monopoli perdaganagan rempah-rempah di Maluku akan lebih mudah dilakuakn. Pada perkembangan berikutnya, Pieter Both berencana untuk memindahkan pusat kedudukan VOC ke Jayakarta. Alasan memilih Jayakarta adalah sebagai berikut.
». Jayakarta lebih strategis dibandingkan Ambon karena terletak di Tengah jalur Perdagangan Asia.
». Dari jayakarta, VOC akan lebih mudah menyingkirkan Portugis yang berkedudukan di Malaka.
Dalam rangka melaksanakan rencana itu, Pieter Both meminta Izin Pangeran Jayakarta untuk mendirikan kantor dagang di Jayakarta yang termasuk kekuasaaan wilayah Banten. Permintaan itu di kabulkan namun beberapa tahun kemudian ,EIC dari Inggris juga diijinkan mendirikan kantor dagangnya di Jayakarta. Akibatnya, muncul persaingan antara VOC dan EIC.
Gambar 8 Kamar Dagang VOC di Amsterdam
Jan Pieterszoon Coen diangkat menjadi gubernur jendral, dalam suasana persaingan EIC dan VOC memperebutkan pengaryh di Jayakarta. Untuk memenangkan persaingan , ia mendirikan Benteng VOC di jayakarta. Benteng itu di beri nama Batavia. Kemudian, ia menghasut penguasa banten Ranamenggala untuk memecat pangeran Jayakarta sekaligus menutup ijin berdagang EIC. Sejak tanggal 31 Mei 1619, VOC memperoleh hak penuh atas Jayakarta. Sejak saaat itu nama Jayakarta diubah menjadi Batavia. Dari Batavia, VOC memperluas pengaruh di berbagai wilayah Indonesia. Perluasaaan pengaruh itu disertai penerapan monopoli perdagangan. Dengan kekuatan militer dan kelihaiannya memecah belah, sejumlah wilayah tunduk pada pengaruh VOC.
Gambar 9 Logo Kamar Dagang VOC di Amsterdam
Sasaran pertama memang untuk mendapatkan rempah-rempah, yaitu cengkeh dari Maluku, lada dari Banten, Sumatera selatan dan barat, dan juga aceh. Karena itulah mereka timbul niat untuk menguasainya daerah-daerah tersebut. Lebih ideal lagi kalau semua daerah tersebut yang dilalui VOC dikuasainya. Untuk itu VOC memerlukan kekuatan yang besar.
Untuk sementara waktu VOC harus puas dengan perdaganagan komoditi itu didaerah-daerah strategis untuk pengamanan pengangkutannya. VOC memaksakan monopoli perdaganagan rempah-rempah di Maluku, dan kemudian daerah-daerah lain. Pada tahun 1641 VOC berhasil menguasai malaka; pada tahun 1667-1669 menguasai Ujung Pandang dan Banten dikuasainya pada tahun 1682.
Untuk mencukupi kebutuhan pangan para prajuritnya, VOC memerlukan beras dari Mataram. Mula-mula beras diperoleh dengan perdagangan biasa tetapi kemudian dengan penyerahan paksa karena Mataram mempunyai hutang kepada VOC untuk Jasa-jasa yang diberikannya dalam menghadapi suatu pemberontakan.
Nyatalah bahwa VOC di Indonesia tidak memberikan keuntungan bagi kerajaan-kerajaan di Indonesia, melainkan sebaliknya, itulah sebabnya terjadi perlawanan-perlawanan terhadap VOC.

B. Politik VOC
Hak-hak istimewa yang tercantum dalam Oktrooi (Piagam/Charta) tanggal 20 Maret 1602 meliputi:
• Hak monopoli untuk berdagang dan berlayar di wilayah sebelah timur Tanjung Harapan dan sebelah barat Selat Magelhaens serta menguasai perdagangan untuk kepentingan sendiri;
• Hak kedaulatan (soevereiniteit) sehingga dapat bertindak layaknya suatu negara untuk:
1. memelihara angkatan perang,
2. memaklumkan perang dan mengadakan perdamaian,
3. merebut dan menduduki daerah-daerah asing di luar Negeri Belanda,
4. memerintah daerah-daerah tersebut,
5. menetapkan/mengeluarkan mata-uang sendiri, dan
6. memungut pajak.
Gambar 10. mata uang yang dikeluarkan VOC
Dengan hak khusus tersebut VOC menjadi lembaga pemerintahan sekaligus perdagangan yang otonom di wilayah jajahan. Itulah sebabnya kehadiran VOC di wilayah jajahan dipimpin oleh seorang gubernur Jendral yang juga termasuk Heeren XVII (XVII Tuan-Tuan). Gubernur Jendral menjalankan dua peran sekaligus yaitu sebagai direktur perusahaaan dan pimpinan pemerintahan.
Aturan monopoli Perdaganagan VOC adalah sebagai berikut :
- Petani rempah – rempah hanya boleh bertindak sebagai produsen. Hak jual-beli hanya dimiliki VOC.
- Panen rempah-rempah harus dijual kepada VOC dengan harga yang ditentukan VOC.
- Barang kebutuhan sehari-hari, sepereti peralatan rumah tangga, garam, dan kain harus dibeli dari VOC dengan harga yang ditentukan VOC.
Strategi VOC mengendalikan Monopoli Perdagangannya adalah dengan cara sebagai berikut :
- Hak Ekstripasi :hak untuk membinasakan pohon rempah-rempah yang berlebihan agar rempah-rempah di pasar manca negara tetap tinggi.
- Pelayaran Hongi : pelayaran bersenjata lengkap untuk mengawasi pohon rempah-rempah yang berlebihan dan mencegah petani rempah-rempah berhubungan dengan pihak pembeli lain.

Perluasan politik VOC berlangsung setelah kedudukan di Batavia. Setelah menguasai Batavia, VOC menanamkan pengaruh politik di kerajaan Banten, kemudian, belanda bergerak ke timur dan berhasil memperlemah Kerajaan Mataram di Jawa Tengah melalui perjanjian Giyanti dan Perjanjian Salatiga. Setelah berhasil memecah belah dan menguasai Mataram, VOC kemudian berhasil menenamkan pengaruh politiknya melalui perjanjian Bongaya.
Di Maluku , VOC menanamkan pengaruh politiknya melalui perjanjian dengan penguasa-penguasa setempat. Dengan Hitu, VOC mengadakan perjanjian untuk saling membantu menghadang pengaruh portugis. Dengan ternate, VOC mengadakan perjanjian dalam rangka menanamkan pengaruhnya di Seram Barat, Luhu, Kambelo, dan Lusidi Yang termasuk wilayah kekuasaaan VOC.

C. Perkembangan VOC 1623- 1648





Gambar J P coen
Masa jabatan kedua yang pendek J P coen sebagai gubernur jendral (1627-1629) berisi suatu obyek pelajaran dalam keadaaan bahaya bagi suatu kerajaan dunia perdagangan yang tidak memperlihatkan kekuasaaan territorial. Sultan Agung dari Mataram telah sedemikian jauh menyadari ambisinya untuk menghidupkan kembali kekuasaaan Majapahit. Dalam tahun 1621 beliau mengambil Tuban ; tahun berikutnya Gresik jatuh untuk kedua kalinya, dan beliau mengirim ekspedisi ke Kalimantan yang menghancurkan Sukadana. Dalam tahun 1624 beliau merampas Madura, membunuh pemimpin-pemimpinnya dan memindahkan 40.000 penduduk ke Jawa.
Dalam tahun 1625 beliau menaklukan Surabaya. Kemudian beliau memakia gelar “susuhunan” dan menuntut menjadi penguasa atas seluruh pulau Jawa. Tetapi Banten menolak untuk mengakui tuntutan beliau itu, dan Batavia. Meskipun mulai mengirim uusan utusan-utusan resmi dengan hadiah-hadiah dalam tahun 1622, bila kena batunya timbul kemarahanya dengan menolakmembantunya dalam serangannya atas Surabaya. Karena itu tahun 1626 beliau menolak menerima utusan Belanda yang biasanya dan bersiap untuk menyerang Batavia.
Dalam kaitan inilah Coen kembali. Batavia masih tetap terkurung rapat dalam perdagangan oleh Banten, yang telah dilakukan selama masa jabatan gubernur Jendral sebelumnya, dan harus melawan gerombolan-gerombolan yang menyerang wilayah sekitarnya sehingga dia harus pertama-tama memperkuat pertahanan kota. Pada malam natal tahun 1627sebuah pasukan Banten tiba-tiba sudah berada didalam kuta dengan serangan yang mengejutkan tetapi dapat dihalau ke luar. Delapan bulan kemudian Mataram juga melancarakan penyerangan melalui laut tapi ini juga dapat dihalau.
Pada masa Mataram berkekuatan besar yang dibantu oleh kekuatan Muslim di Arab yang dengan menyatakan untuk perang suci dengan menaklukan Blambangan dan Juga Bali, bantuan itu diberikan karena Mataram yang berkeinginan menyebarluaskan agama Islam di daerah tersebut. Mataram berhasil menaklukan Blambangan pada tahun 1639 tetapi Bali tidak bias di taklukan karena dengan perlawanan yang luar biasa.
Gambar Antonie Van Diemen
Belanda yang bebas dari ancaman mataram memasuki kurun waktu keberhasilan dan perluasan kekuasaan yang menggembirakan. Kemajuan besar mulai di bawah Antonie Van Diemen, 1636-1645. ia adalah pilihan Coen sebagai penggantinya tahun 1629, tetapi Dewan telah memutuskan sebalikya dan telah menunjuk Jacques Specx sebagai pejabat gubernur jendral. Para direktur di negerinya telah mengadakan pertimbangan lama menunjuk salah seorang anggotanya, Hendirk Brouwer. Pergantian gubernur Jendaral ini tidaklah menunjukan kemajuan seperti yang telah dibuat oleh Coen atupun van Diemen.
Gambar Jacques Specx
Gambar Hendirk Brouwer
Belanda penguasa yang terkuat di Nusantara. Tetapi mereka memenangkan supermasinya dengan biaya besar dan waktu yang panjang ketika berperang.
Pada tahun 1611 VOC mendapat izin untuk membangun satu rumah kayu dengan fondasi batu di Jayakarta, sebagai kantor dagang. Kemudian mereka menyewa lahan sekitar 1,5 hektar di dekat muara di tepi bagian timur Sungai Ciliwung, yang menjadi kompleks perkantoran, gudang dan tempat tinggal orang Belanda, dan bangunan utamanya dinamakan Nassau Huis. Ketika Jan Pieterszoon Coen menjadi Gubernur Jenderal (1618 – 1623), ia mendirikan lagi bangunan serupa Nassau Huis yang dinamakan Mauritius Huis, dan membangun tembok batu yang tinggi, di mana ditempatkan beberapa meriam.
Tak lama kemudian, ia membangun lagi tembok setinggi 7 meter yang mengelilingi areal yang mereka sewa, sehingga kini benar-benar merupakan satu benteng yang kokoh, dan mulai mempersiapkan untuk menguasai Jayakarta. Dari basis benteng ini pada 30 Mei 1619 Belanda menyerang tuan rumah, yang memberi mereka izin untuk berdagang, dan membumihanguskan keraton serta hampir seluruh pemukiman penduduk.
Berawal hanya dari bangunan separuh kayu, akhirnya Belanda menguasai seluruh kota, dan kemudian seluruh Nusantara. Semula Coen ingin menamakan kota ini sebagai Nieuwe Hollandia, namun de Heeren Seventien di Belanda memutuskan untuk menamakan kota ini menjadi Batavia, untuk mengenang bangsa Batavir, yaitu bangsa Germania yang bermukim di tepi Sungai Rhein yang kini dihuni oleh orang Belanda. Dan nama Batavia ini digunakan oleh Belanda selama lebih dari 300 tahun.
Dengan demikian, Batavia (Sunda Kalapa, Jayakarta, Jakarta) adalah jajahan Belanda pertama di Nusantara. Entah sejak kapan, penduduk di kota Batavia dinamakan –atau menamakan diri- orang Betawi, yang mengambil nama dari Batavia tersebut. Dilihat dari sejarah dan asal-usulnya, jelas penamaan ini keliru. Tanggal 30 Mei 1619 dapat ditetapkan sebagai awal penjajahan Belanda di bumi Nusantara, yang berakhir tanggal 9 Maret 1942, yaitu dengan resmi menyerahnya Pemerintah India Belanda kepada Jepang di Kalijati, Subang, Jawa Barat.
Legalisasi Perbudakan dimulai oleh VOC Perbudakan memang telah ada sebelum orang-orang Eropa datang ke Asia Tenggara, namun di masa VOC, berdasarkan Bataviase Statuten (Undang-Undang Batavia) tahun 1642, perbudak diresmikan dengan adanya Undang-Undang Perbudakan.
Sebagian besar perbudakan terjadi di Jawa, namun budak-budak tersebut berasal dari luar Jawa, yaitu para tawanan dari daerah-daerah yang ditaklukkan Belanda, seperti dari pulau Banda tahun 1621, di mana 883 orang (176 orang mati dalam perjalanan) dibawa ke pulau Jawa dan dijual sebagai budak.
Perdagangan budak di seluruh dunia memang telah terjadi sejak ribuan tahun lalu, terutama di zaman Romawi. Yang diperdagangkan di pasar budak adalah rakyat, serdadu, perwira dan bahkan bangsawan dari negara-negara yang kalah perang dan kemudian dijual sebagai budak. Selama Perang Salib/Sabil yang berlangsung sekitar 200 tahun, ratusan ribu orang dari berbagai etnis yang ditawan, dijual sebagai budak sehingga membanjiri pasar budak, dan mengakibatkan anjloknya harga budak waktu itu.Dari abad 15 sampai akhir abad 19, seiring dengan kolonialisme negara-negara Eropa terhadap negara-negara atau wilayah yang mereka duduki di Asia, Afrika dan Amerika, perdagangan budak menjadi sangat marak, juga terutama untuk benua Amerika, di mana para penjajah memerlukan tenaga kerja untuk menggarap lahan pertanian dan perkebunan. Di Amerika Serikat –negara yang mengklaim sebagai sokoguru demokrasi- perbudakan secara resmi baru dihapus tahun 1865, namun warga kulit hitam masih harus menunggu seratus tahun lagi, sampai mereka memperoleh hak memilih dan dipilih

Avektif
Cermati gambar disamping ! apa yang kamu ketahui tentang tokoh disamping?



 Pertemuan Kedua
I. Perlawanan di berbagai daerah Indonesia melawan VOC Perlawanan di berbagai daerah Indonesia melawan VOC
A. Mataram melawan VOC
Kesultanan Mataram (Islam) adalah kerajaan Islam di Jawa yang didirikan oleh Sutawijaya, keturunan dari Ki Ageng Pemanahan yang mendapat hadiah sebidang tanah dari raja Pajang, Hadiwijaya, atas jasanya. Kerajaan Mataram pada masa keemasannya dapat menyatukan hampir seluruh tanah Jawa dan meninggalkan beberapa jejak sejarah yang dapat dilihat hingga kini, seperti wilayah Matraman di Jakarta dan sistem persawahan di Karawang.


Peta Mataram Baru yang telah dipecah menjadi empat kerajaan pada tahun 1830, Pada peta ini terlihat bahwa Kasunanan Surakarta memiliki banyak enklave di wilayah Kasultanan Yogyakarta dan wilayah Belanda..
Sutawijaya naik tahta setelah ia merebut wilayah Pajang sepeninggal Hadiwijaya dengan gelar Panembahan Senopati. Pada saat itu wilayahnya hanya di sekitar Jawa Tengah saat ini, mewarisi wilayah Kerajaan Pajang. Pusat pemerintahan berada di Mentaok, wilayah yang terletak kira-kira di timur Kota Yogyakarta dan selatan Bandar Udara Adisucipto sekarang. Lokasi keraton (tempat kedudukan raja) pada masa awal terletak di Banguntapan, kemudian dipindah ke Kotagede. Sesudah ia meninggal (dimakamkan di Kotagede) kekuasaan diteruskan putranya Mas Jolang yang setelah naik tahta bergelar Prabu Hanyokrowati.




Gambar. Sultan Agung

Pemerintahan Prabu Hanyokrowati tidak berlangsung lama karena beliau wafat karena kecelakaan saat sedang berburu di hutan Krapyak. Karena itu beliau juga disebut Susuhunan Seda Krapyak atau Panembahan Seda Krapyak yang artinya Raja (yang) wafat (di) Krapyak. Setelah itu tahta beralih sebentar ke tangan putra keempat Mas Jolang yang bergelar Adipati Martoputro. Ternyata Adipati Martoputro menderita penyakit saraf sehingga tahta beralih ke putra sulung Mas Jolang yang bernama Mas Rangsang.
Sesudah naik tahta Mas Rangsang bergelar Sultan Agung Hanyokrokusumo. Namun ia lebih dikenal dengan sebutan Sultan Agung. Letak keraton Mataram pada masa ini dipindah ke Pleret (sekarang termasuk wilayah Kabupaten Bantul). Pada masanya wilayah Mataram diperluas hingga mencakup hampir seluruh pulau Jawa dan Madura. Akibatnya terjadi gesekan dengan VOC yang berpusat di Batavia. Maka terjadilah beberapa peperangan antara Mataram melawan VOC. Setelah beliau wafat (dimakamkan di Imogiri), penggantinya adalah putranya yang bergelar Amangkurat (Amangkurat I, Sunan Tegalarum).
Amangkurat I memindahkan lokasi keraton ke Kerta, di dekat Pleret. Pemerintahan Amangkurat kurang stabil karena banyak ketidakpuasan dan pemberontakan. Pada masanya, terjadi pemberontakan besar yang dipimpin oleh Terunajaya dan memaksa Amangkurat bersekutu dengan VOC. Ia wafat di Tegalarum ketika mengungsi. Penggantinya, Amangkurat II (Amral), patuh pada VOC sehingga kerabat istana banyak yang tidak puas dan pemberontakan terus terjadi. Kekacauan politik baru dapat diselesaikan setelah pembagian wilayah Mataram menjadi dua yaitu Kesultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta pada tahun 1755. Pembagian wilayah ini tertuang dalam perjanjian Giyanti (nama diambil dari lokasi penandatanganan, di sebelah timur kota Karanganyar, Jawa Tengah). Berakhirlah era Mataram sebagai satu kesatuan politik dan wilayah. Walaupun demikian sebagian masyarakat Jawa beranggapan bahwa Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta adalah "ahli waris" dari Kesultanan Mataram.
Melihat bahwa VOC semakin berkuasa memaksakan monopolinya di Indonesia, Maka membangkitkan perlawanan Sultan Agung (1613-1645) dari Mataram. Pada tahun 1618 Mataram menunjukan sikap tidak bersahabat kepada VOC, dengan penyerbuan tentara Mataram atas VOC yang ada di Jepara. Puncak permusuhan Mataram terhadap VOC ketika Mataram pada tahun 1628 menyerbu VOC di Jakarta. Kedua serangan tersebut gagal karena beberapa sebab, diantaranya ialah persiapan yang kurang sempurna. Serbuan dilaksanakan bertepatan adanya musim hujan, pertahanan VOC di dalam benteng yang sulit di tembus, penyakit menular dan sabotase perbekalan Mataram oleh pihak-pihak yang membantu VOC. Meskipun demikian serangan Mataram ini membuktikan bahwa Mataram mempunyai sikap anti dominasi asing. Jarak Jakarta dengan Mataram yang jauh dengan tranportasi yang masih sangat sederhana, sungguh hal ini merupakan prestasi tersendiri. Kegagalan serbuan Mataram ini tidak menyebabkan patah semangat Mataram untuk selslu mencoba mengusir bangsa asing. Berbagai cara ditempuhnya, antara lain memindahkan penduduk Mataram ke Kerawang. Kerawang dijadikan daerah basis penyerangan dan daerah perbekalan, sehingga tidak terlalu jauh dengan tujuan. Kecuali itu oleh Mataram di coba untuk bekerjasama dengan Portugis di Malaka. Namun pada Tahun 1641 Malaka direbut oleh Belanda dari tangan Portugis.

B. Banten melawan VOC
Banten pada masa lalu merupakan sebuah daerah dengan kota pelabuhan yang sangat ramai, serta dengan masyarakat yang terbuka dan makmur. Banten yang berada di jalur perdagangan internasional, berinteraksi dengan dunia luar sejak awal abad Masehi. Kemungkinan pada abad ke-7 Banten sudah menjadi pelabuhan internasional. Dan sebagai konsekuensi logisnya, Islam diyakini telah masuk dan berakulturasi dengan budaya setempat sebagaimana diceritakan dalam berita Tome Pires pada tahun 1513.
Proses Islamisasi Banten, yang diawali oleh Sunan Ampel, yang kemudian diteruskan oleh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) yang seluruh kisahnya terekam dalam naskah Carita Purwaka Caruban Nagari. Fase sejarah penting menguatnya pengaruh Islam terjadi ketika Bupati Banten menikahkan adiknya, yang beernama Nyai Kawunganten, dengan Syarif Hidayatullah yang kemudian melahirkan dua anak yang diberi nama Ratu Wulung Ayu dan Hasanuddin sebagai cikal bakal dimulainya fase sejarah Banten sebagai Kerajaan Islam . Bersama putranya inilah Sunan Gunung Jati melebarkan pengaruh dalam menyebarluaskan agama Islam ke seluruh tatar Sunda hingga saatnya Sang Wali kembali ke Cirebon .
Gambar. Peta kerjaan Banten
Takluknya Prabu Pucuk Umun di Wahanten Girang (Banten Girang) pada tahun 1525 selanjutnya menjadi tonggak dimulainya era Banten sebagai kerajaan Islam dengan dipindahkannya pusat pemerintahan Banten dari daerah pedalaman ke daerah pesisir pada tanggal 1 Muharam tahun 933 Hijriah yang bertepatan dengan tanggal 8 Oktober 1526 (Michrob dan Chudari, 1993:61). Atas pemahaman geo-politik yang mendalam Sunan Gunung Jati menentukan posisi istana, benteng, pasar, dan alun-alun yang harus dibangun di dekat kuala Sungai Banten yang kemudian diberi nama Surosowan. Hanya dalam waktu 26 tahun, Banten menjadi semakin besar dan maju, dan pada tahun 1552 Masehi, Banten yang tadinya hanya sebuah kadipaten diubah menjadi negara bagian Demak dengan dinobatkannya Hasanuddin sebagai raja di Kesultanan Banten dengan gelar Maulana Hasanuddin Panembahan Surosowan (Pudjiastuti,2000:61).
Ketika sudah menjadi pusat Kesultanan Banten, sebagaimana dilaporkan oleh J. de Barros, Banten merupakan pelabuhan besar di Jawa, sejajar dengan Malaka. Kota Banten terletak di pertengahan pesisir sebuah teluk, yang lebarnya sampai tiga mil. Kota itu panjangnya 850 depa. Di tepi laut kota itu panjangnya 400 depa; masuk ke dalam ia lebih panjang. Melalui tengah-tengah kota ada sebuah sungai yang jernih, di mana kapal jenis jung dan gale dapat berlayar masuk.
Sepanjang pinggiran kota ada sebuah anak sungai, di sungai yang tidak seberapa lebar itu hanya perahu-perahu kecil saja yang dapat berlayar masuk. Pada sebuah pinggiran kota itu ada sebuah benteng yang dindingnya terbuat dari bata dan lebarnya tujuh telapak tangan. Bangunan-bangunan pertahanannya terbuat dari kayu, terdiri dari dua tingkat, dan dipersenjatai dengan senjata yang baik. Di tengah kota terdapat alun-alun yang digunakan untuk kepentingan kegiatan ketentaraan dan kesenian rakyat dan sebagai pasar di pagi hari. Istana raja terletak di bagian selatan alun-alun. Di sampingnya terdapat bangunan datar yang ditinggikan dan beratap, disebut Srimanganti, yang digunakan sebagai tempat raja bertatap muka dengan rakyatnya. Di sebelah barat alun-alun didirikan sebuah mesjid agung. Pada awal abad ke-17 Masehi, Banten merupakan salah satu pusat perniagaan penting dalam jalur perniagaan internasional di Asia. Tata administrasi modern pemerintahan dan kepelabuhan sangat menunjang bagi tumbuhnya perekonmian masyarakat. Ketika orang Belanda tiba di Banten untuk pertama kalinya, orang Portugis telah lama masuk ke Banten. Kemudian orang Inggris mendirikan loji di Banten dan disusul oleh orang Belanda.
Gambar. Pelabuhan di Banten
Selain itu, orang-orang Perancis dan Denmark pun pernah datang di Banten. Dalam persaingan antara pedagang Eropa ini, Belanda muncul sebagai pemenang. Orang Portugis melarikan diri dari Banten (1601), setelah armada mereka dihancurkan oleh armada Belanda di perairan Banten. Orang Inggris pun tersingkirkan dari Batavia (1619) dan Banten (1684) akibat tindakan orang Belanda .
Wujud dari interaksi budaya dan keterbukaan masyarakat Banten tempo dulu dapat dilihat dari berkembangnya perkampungan penduduk yang berasal dari berbagai daerah di Nusantara seperti Melayu, Ternate, Banjar, Banda, Bugis, Makassar, dan dari jawa sendiri serta berbagai bangsa dari luar Nusantara seperti Pegu (Birma), Siam, Parsi, Arab, Turki, Bengali,dan Cina. Setidaknya inilah fakta sejarah yang turut memberikan kontribusi bagi kebesaran dan kejayaan Banten.
Dalam usahanya membangun Banten, Maulana Hasanuddin sebagai Sultan Banten pertama (1522-1570), menitikberatkan pada pengembangan sektor perdagangan dengan lada sebagai komoditas utama yang diambil dari daerah Banten sendiri serta daerah lain di wilayah kekuasaan Banten, yaitu Jayakarta, Lampung, dan terjauh yaitu dari Bengkulu. Perluasan pengaruh juga menjadi perhatian Sultan Hasanuddin melalui pengiriman ekspedisi ke pedalaman dan pelabuhan-pelabuahn lain. Sunda Kalapa sebagai salah satu pelabuhan terbesar berhasil ditaklukkan pada tahun 1527 dan takluknya Sunda Kalapa tersebut ditandai dengan penggantian nama Sunda Kalapa menjadi "Jayakarta". Dengan takluknya Jayakarta, Banten memegang peranan strategis dalam perdagangan lada yang sekaligus menggagalkan usaha Portugis di bawah pimpinan Henrique de Leme dalam usahanya menjalin kerjasama dengan Raja Sunda (Kartodirdjo, 1992:33-34).
Pasca wafatnya Maulana Hasanuddin, pemerintahan dilanjutkan oleh Maulana Yusuf (1570-1580), putra pertamanya dari Ratu Ayu Kirana, putri Sultan Demak. Kemasyhuran Banten makin meluas ketika politik ekspansinya berhasil pula menaklukkan Pakuan Pajajaran yang dibantu oleh Cirebon pada tahun 1579 sehingga Kerajaan Sunda akhirnya benar-benar runtuh. Pada masa pemerintahan Maulana Yusuf, sektor pertanian berkembang pesat dan meluas hingga melewati daerah Serang sekarang, sedangkan untuk memenuhi kebutuhan air bagi sawah-sawah tersebut dibuat terusan irigasi dan bendungan. Danau (buatan) Tasikardi merupakan sumber pemenuhan kebutuhan air bersih bagi penduduk kota , sekaligus sebagai sumber pengairan bagi daerah pesawahan di sekitar kota . Sistem filtrasi air dengan metode pengendapan di Pengindelan Abang dan Pengindelan Putih merupakan bukti majunya teknologi pengelolaan air pada masa tersebut.
Pada masa Maulana Yusuf memerintah, perdagangan Banten sudah sangat maju dan Banten bisa dianggap sebagai sebuah kota pelabuhan emporium, tempat barang-barang dagangan dari berbagai penjuru dunia digudangkan dan kemudian didistribusikan. Tumbuh dan berkembangnya pemukiman-pemukiman pendatang dari mancanegara terjadi pada masa ini. Kampung Pekojan umpamanya untuk para pedagang Arab, Gujarat , Mesir, dan Turki, yang terletak di sebelah barat Pasar Karangantu. Kampung Pecinan untuk para pedagang Cina, yang terletak di sebelah barat Masjid Agung Banten.
Masa kejayaan Banten selanjutnya diteruskan oleh Maulana Muhammad pasca mangkatnya Maulana Yusuf pada tahun 1580. Maulana Muhammad dikenal sebagai seorang sultan yang amat saleh. Untuk kepentingan penyebaran agama Islam ia banyak menulis kitab-kitab agama Islam yang kemudian dibagikan kepada yang membutuhkannya. Kesejahteraan masjid dan kualitas kehidupan keberagamaan sangat mewarnai masa pemerintahannya walaupun tak berlangsung lama karena kematiannya yang tragis dalam perang di Pelembang pada tahun 1596 dalam usia sangat muda, sekitar 25 tahun.
Pasca mangkatnya Maulana Muhammad, Banten mengalami masa deklinasi ketika konflik dan perang saudara mewarnai keluarga kerajaan khususnya selama masa perwalian Abul Mufakhir Mahmud Abdul Kadir yang baru berusia lima bulan ketika ayahandanya wafat. Puncak perang saudara bermuara pada peristiwa Pailir, dan setelahnya Banten mulai kembali menata diri. Dengan berakhirnya masa perwalian Sultan Muda pada bulan Januari 1624, maka Sultan Abul Mufakir Mahmud Abdul Kadir diangkat sebagai Sultan Banten (1596-1651).
Sultan yang baru ini dikenal sebagai orang yang arif bijaksana dan banyak memperhatikan kepentingan rakyatnya. Bidang pertanian, pelayaran, dan kesehatan rakyat mendapat perhatian utama dari Sultan Banten ini. Ia berhasil menjalin hubungan diplomatik dengan negara-negara lain, terutama dengan negara-negara Islam. Dialah penguasa Banten pertama yang mendapat gelar Sultan dari penguasa Arab di Mekah (1636). Sultan Abdul Mufakhir bersikap tegas terhadap siapa pun yang mau memaksakan kehendaknya kepada Banten. Misalnya ia menolak mentah-mentah kemauan VOC yang hendak memaksakan monopoli perdagangan di Banten. Dan akibat kebijakannya ini praktis masa pemerintahannya diwarnai oleh ketegangan hingga blokade perdagangan oleh VOC terhadap Banten.
Konflik antara Banten dengan Belanda semakin tajam ketika VOC memperoleh tempat kedudukan di Batavia . Persaingan dagang dengan Banten tak pernah berkesudahan. VOC mengadakan siasat blokade terhadap pelabuhan niaga Banten, melarang dan mencegah jung-jung dari Cina dan perahu-perahu dari Maluku yang akan berdagang ke pelabuhan Banten yang membuat pelabuhan Banten hampir lumpuh. Perlawanan sengit orang Banten terhadap VOC pecah pada bulan November 1633 dengan mengadakan "gerilya" di laut sebagai "perompak" dan di daratan sebagai "perampok" sehingga memprovokasi VOC untuk melakukan ekspedisi ke Tanam, Anyer, dan Lampung. Kota Banten sendiri berkali-kali diblokade.
Situasi perang terus berlangsung selama enam tahun, dan ketegangan masih terus terjadi hingga wafatnya Sultan Abul Mufakhir pada tahun 1651 dan digantikan oleh Pangeran Adipati Anom Pangeran Surya, putra Abu al-Ma'ali Ahmad atau Pangeran Ratu Ing Banten atau Sultan Abufath Abdulfattah atau yang lebih dikenal dengan Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1672).
Sultan Ageng Tirtayasa yang ahli strategi perang berhasil membina mental para prajurit Banten dengan cara mendatangkan guru-guru agama dari Arab, Aceh, Makassar, dan daerah lainnya. Perhatiannya yang besar pada perkembangan pendidikan agama Islam juga mendorong pesatnya kemajuan Agama Islam selama pemerintahannya.
Pelabuhan Banten yang semula diblokade VOC perlahan namun pasti mulai pulih ketika Sultan Ageng Tirtayasa berhasil menarik perdagangan bangsa Eropa lainnya, seperti Inggris, Perancis, Denmark, dan Portugis yang notabene merupakan pesaing berat VOC. Strategi ini bukan hanya berhasil memulihkan perdagangan Banten namun sekaligus memecah konflik politik menjadi persaingan perdagangan antar bangsa-bangsa Eropa.
Gambar Masjid Agung Banten
Selain mengembangkan perdagangan, Sultan Ageng Tirtayasa gigih berupaya juga untuk memperluas pengaruh dan kekuasaan ke wilayah Priangan, Cirebon, dan sekitar Batavia guna mencegah perluasan wilayah kekuasaan Mataram yang telah masuk sejak awal abad ke-17. Selain itu, juga untuk mencegah pemaksaan monopoli perdagangan VOC yang tujuan akhirnya adalah penguasaan secara politik terhadap Banten . VOC yang mulai terancam oleh pengaruh Sultan Ageng Tirtayasa yang makin luas pada tahun 1655 mengusulkan kepada Sultan Banten agar melakukan pembaruan perjanjian yang sudah hampir 10 tahun dibuat oleh kakeknya pada tahun 1645. Akan tetapi, Sultan dengan tegas bersikap tidak merasa pelu memperbaruinya selama pihak Kompeni ingin menang sendiri.
Meskipun disibukkan dengan urusan konflik dengan VOC, Sultan tetap melakukan upaya-upaya pembangunan dengan membuat saluran air untuk kepentingan irigasi sekaligus memudahkan transportasi dalam peperangan. Upaya itu berarti pula meningkatkan produksi pertanian yang erat hubungannya dengan kesejahteraan rakyat serta untuk kepentingan logistik jika mengadapi peperangan. Karena Sultan banyak mengusahakan pengairan dengan melaksanakan penggalian saluran-saluran menghubungkan sungai-sungai yang membentang sepanjang pesisir utara, maka atas jasa-jasanya ia digelari Sultan Ageng Tirtayasa.
Usaha Sultan Ageng Tirtayasa baik dalam bidang politik diplomasi maupun di bidang pelayaran dan perdagangan dengan bangsa-bangsa lain semakin ditingkatkan. Pelabuhan Banten makin ramai dikunjungi para pedaganga asing dari Persia, India, Arab, Cina, Jepang, Filipina, Malayu, Pegu, dan lainnya. Demikian pula dengan bangsa-bangsa dari Eropa yang bersahabat, dengan Inggris, Prancis, Denmark, dan Turki.
Sultan Ageng Tirtayasa telah membawa Banten ke puncak kejayaannya, di samping berhasil memajukan pertanian dengan sistem irigasi ia pun berhasil menyusun kekuatan angkatan perangnya yang sangat disegani, memperluas hubungan diplomatik, dan meningkatkan volume perniagaan Banten sehingga Banten menempatkan diri secara aktif dalam dunia perdagangan internasional di Asia.
Puncak konflik antara Banten dengan VOC terjadi setelah Perjanjian Amangurat II dengan VOC membawa pengaruh politik yang besar terhadap Kesultanan Banten, dan setelah pemberontakan Trunojoyo dapat dipadamkan, akhirnya Sultan Ageng Tirtayasa harus berhadapan dengan VOC. Pada saat yang bersamaan Kesultanan Banten mengalami perpecahan dari dalam. Putra mahkota, Sultan Abu Nasr Abdul Kahar, yang dikenal dengan Sultan Haji diangkat jadi pembantu ayahnya mengurus urusan dalam negeri, sedangkan urusan luar negeri dipegang oleh Sultan Purbaya.Pemisahan urusan pemerintahan ini dimanfaatkan VOC untuk mendekati dan menghasut Sultan Haji guna melawan ayahandanya. Dengan bantuan pasukan VOC, pada tahun 1681 Sultan Haji melakukan kudeta kepada ayahnya dan berhasil menguasai istana Surasowan yang kemudian berada di bawah antara ayah dan anak setahun lamanya hingga Sultan Ageng Tirtayasa tertangkap akibat pengkhianatan putranya sendiri, Sultan Haji. Sultan Ageng Tirtayasa dipenjarakan di Batavia sampai ia meninggal tahun 1692 dan kemudian dimakamkan di Kompleks Mesjid Agung Banten.
Dengan ditandatanganinya perjanjian pada tanggal 17 April 1684 antara Kesultanan Banten yang diwakili oleh Sultan Abdul Kahar, Pangeran Dipaningrat, Kiai Suko Tajuddin, Pangeran Natanagara, dan Pangeran Natawijaya, dengan Belanda yang diwakili oleh Komandan dan Presiden Komisi Francois Tack, Kapten Herman Dirkse Wonderpoel, Evenhart van der Schuer, serta kapten bangsa melayu Wan Abdul Bagus, maka lenyaplah kejayaan dan kemajuan Kesultanan Banten, karena ditelan monopoli dan penjajahan Kompeni, akibat perjanjian ini Kesultanan Banten diambang keruntuhan.
Selangkah demi selangkah Kompeni mulai menguasai Kesultanan Banten. Benteng Kompeni mulai didirikan pada tahun 1684-1685 di bekas benteng kesultanan yang dihancurkan, dan benteng ini dirancang oleh seorang arsitektur yang sudah masuk Islam dan menjadi anggota kesultanan yang bernama Hendrick Lucaszoon Cardeel. Benteng yang didirikan itu diberi nama Speelwijk, untuk memperingati kepada Gubernur Jenderal Speelma. Dengan demikian, praktis Banten sebagai pusat kekuasaan dan kesultanan telah pudar. Demikian pula peran Banten sebagai pusat perniagaan antarbangsa telah tertutup. Tidak ada lagi kebebasan melaksanakan perdagangan.
Penderitaan rakyat semakin berat bukan saja karena pembersihan atas pengikut Sultan Ageng Tirtayasa serta pajak yang tinggi, selain karena sultan harus membayar biaya perang, juga karena monopoli perdagangan Kompeni. Rakyat dipaksa untuk menjual hasil pertaniannya, terutama lada dan cengkeh, kepada Kompeni melalui pegawai kesultanan yang ditunjuk, dengan harga yang sangat rendah. Raja seolah-olah hanya sebagai pegawai Kompeni dalam hal pengumpulan lada dari rakyat. Pedagang-pedagang Inggris, Francis, dan Denmark, karena banyak membantu Sultan Ageng Tirtayasa dalam perang yang lalu, diusir dari Banten.
Kerusuhan demi kerusuhan, pemberontakan, dan kekacauan di segala bidang bergejolak selama pemerintahan Sultan Haji. Perampokan dan pembunuhan terhadap para pedagang dan patroli Kompeni, baik di luar kota maupun di dalam kota, kerap terjadi dimana-mana. Bahkan pernah terjadi pembakaran yang mengabiskan 2/3 bangunan di dalam kota. Ketidakamanan pun terjadi di lautan, banyak kapal Kompeni yang dibajak oleh "bajak negara" yang bersembunyi di sekitar perairan Bojonegara sekarang. Sebagian besar rakyat tidak mengakui Sultan Haji sebagai Sultan. Oleh sebab itu, kehidupan Sultan Haji selalu berada dalam kegelisahan dan ketakutan.
Bagaimanapun penyesalannya terhadap perlakuan buruknya terhadap ayah, saudara, sahabat, dan prajurit-prajuritnya yang setia selalu ada. Akan tetapi, semuanya sudah terlanjur. Kompeni yang dulu dianggap sebagai sahabat dan pelindungnya, akhirnya menjadi tuan yang harus dituruti segala kehendaknya. Karena tekanan-tekanan itu, akhirnya Sultan Haji jatuh sakit hingga meninggal dunia pada tahun 1687. Jenazahnya dimakamkan di pemakamam Sedakingkin sebelah utara Mesjid Agung Banten, sejajar dengan makam ayahnya, Sultan Ageng Tirtayasa . Pasca peristiwa tersebut, Banten memasuki fase sejarah sebagai bagian dari daerah koloni Belanda. Dan perlawanan-perlawanan sporadis menjadi warna yang kental pada masa pemerintahan berikutnya yang praktis tak berdaulat sebagai sebuah negara sebagaimana pada masa Sultan Ageng Tirtayasa, yang telah berhasil membangun negara modern yang berdaulat.

C. Makasar melawan VOC
Daerah kekuasaan Makasar luas, seluruh jalur perdagangan di Indonesia Timur dapat dikuasainya. Sultan Hasannudin terkenal sebagai raja yang sangat anti kepada dominasi asing. Oleh karena itu ia menentang kehadiran dan monopoli yang dipaksakan oleh VOC yang telah berkuasa di Ambon. Untuk itu hubungan antara Batavia (pusat kekuasaan VOC di Hindia Timur) dan Ambon terhalangi oleh adanya kerajaan Makasar. Dengan kondisi tersebut maka timbul pertentangan antara Sultan Hasannudin dengan VOC, bahkan menyebabkan terjadinya peperangan. Peperangan tersebut terjadi di daerah Maluku.
Gambar Peta lokasi kerajaan Makasar
Dalam peperangan melawan VOC, Sultan Hasannudin memimpin sendiri pasukannya untuk memporak-porandakan pasukan Belanda di Maluku. Akibatnya kedudukan Belanda semakin terdesak. Atas keberanian Sultan Hasannudin tersebut maka Belanda memberikan julukan padanya sebagai Ayam Jantan dari Timur. Upaya Belanda untuk mengakhiri peperangan dengan Makasar yaitu dengan melakukan politik adu-domba antara Makasar dengan kerajaan Bone (daerah kekuasaan Makasar). Raja Bone yaitu Aru Palaka yang merasa dijajah oleh Makasar meminta bantuan kepada VOC untuk melepaskan diri dari kekuasaan Makasar. Sebagai akibatnya Aru Palaka bersekutu dengan VOC untuk menghancurkan Makasar.



Gambar Benteng Rotterdam
Akibat persekutuan tersebut akhirnya Belanda dapat menguasai ibukota kerajaan Makasar. Dan secara terpaksa kerajaan Makasar harus mengakui kekalahannya dan menandatangai perjanjian Bongaya tahun 1667 yang isinya tentu sangat merugikan kerajaan Makasar.
Isi dari perjanjian Bongaya antara lain:
a. VOC memperoleh hak monopoli perdagangan di Makasar.
b. Belanda dapat mendirikan benteng di Makasar.
c. Makasar harus melepaskan daerah-daerah jajahannya seperti Bone dan pulau-pulau di luar Makasar.
d. Aru Palaka diakui sebagai raja Bone.
Walaupun perjanjian telah diadakan, tetapi perlawanan Makasar terhadap Belanda tetap berlangsung. Bahkan pengganti dari Sultan Hasannudin yaitu Mapasomba (putra Hasannudin) meneruskan perlawanan melawan Belanda. Untuk menghadapi perlawanan rakyat Makasar, Belanda mengerahkan pasukannya secara besar-besaran. Akhirnya Belanda dapat menguasai sepenuhnya kerajaan Makasar, dan Makasar mengalami kehancurannya.

D. Kerajaan Goa melawan VOC
Mulai abad ke –15 Kerajaan Gowa merupakan kerajaan maritim yang besar pengaruhnya di perairan nusantara. Bahkan dari kerajaan ini juga muncul nama Pahlawan Nasional yang bergelar Ayam Jantan dari Timur, Sultan Hasanuddin, Raja Gowa XIV yang berani melawan VOC Belanda pada tahun-tahun awal kolonisasinya di Indonesia.Kerajaan Gowa memang akhirnya takluk kepada Belanda lewat perjanjian Bungaya. Namun meskipun sebagai kerajaan, Gowa tidak lagi berjaya, kerajaan ini mampu memberikan warisannya terbesarnya, yaitu pelabuhan Makassar. Pelabuhan yang kemudian berkembang menjadi Kota Makassar ini dapat disebut anak kandungnya. Sedangkan kerajaan Gowa sendiri merupakan cikal bakal Kabupaten Gowa sekarang
Terletak di Sulawesi Selatan. Sudah sejak lama Goa mempunyai kontak dagang dengan Maluku sehingga tidak mau terikat dengan adanya monopoli yang di paksakan oleh VOC. Perang meletus untuk pertama kalinya pada tahun 1654-1655. ketika itu VOC di Sulawesi Selatan masih lemah. Sementara itu kerajaan Goa di bawah Hasanuddin berselisih dengan Soppeng dan Bone. Keadaan ini mengunungkan VOC. VOC memihak Soppeng-Bone, yang dipimpin Aru Palaka. Perang terjadi lagi pada tahun 1667. pasukan VOC didatangkan dari Jawa di Bawah pimpinan Speelman. Pasukan gabungan ini mengalahkan Goa.
Gambar Peta lokasi kerajaan Gowa
VOC memaksakan Diktat (perjanjian yang dipaksakan) Bongaya pada tahun 1669. Goa begitu kehilangan hak, umpamanya tidak boleh mempunyai Benteng, melepaskan pengaruhnya di Bima. Pembatasan kegiatan berlayar dan monopoli perdaganagan VOC. Tetapi pelaut-pelaut Goa masih tetap meneruskan berjuang di daerah-daerah lain, misalnya di Mataram dan Banten. Nama Karaeng Bontomaranu dan Karaeng Galesung dikenal di Jawa, sebagai Pejuang bersama-sama dengan orang Jawa.




E. RANGKUMAN
Vereenigde Oostindische Compagnie (Perserikatan Perusahaan Hindia Timur) atau VOC yang didirikan pada tanggal 20 Maret 1602 adalah perusahaan Belanda yang memiliki monopoli untuk aktivitas perdagangan di Asia. Disebut Hindia Timur karena ada pula VWC yang merupakan perserikatan dagang Hindia Barat. Perusahaan ini dianggap sebagai perusahaan pertama yang mengeluarkan pembagian saham. Meskipun sebenarnya VOC merupakan sebuah badan dagang saja, tetapi badan dagang ini istimewa karena didukung oleh negara dan diberi fasilitas-fasilitas sendiri yang istimewa.
Misalkan VOC boleh memiliki tentara dan boleh bernegosiasi dengan negara-negara lain. Bisa dikatakan VOC adalah negara dalam negara. VOC terdiri 6 Bagian (Kamers) di Amsterdam, Middelburg (untuk Zeeland), Enkhuizen, Delft, Hoorn dan Rotterdam. Delegasi dari ruang ini berkumpul sebagai Heeren XVII (XVII Tuan-Tuan). Kamers menyumbangkan delegasi ke dalam tujuh belas sesuai dengan proporsi modal yang mereka bayarkan; delegasi Amsterdam berjumlah delapan. Di Indonesia VOC memiliki sebutan populer Kompeni atau Kumpeni. Istilah ini diambil dari kata compagnie dalam nama lengkap perusahaan tersebut dalam bahasa Belanda.
Dalam masanya VOC mengalami penentangan di Inonesia yang menjadikan banyak pertemuran-pertempuran untuk melepaskan dominasi VOC. Daerah-daerah di nusantara seperti di Banten, Mataram, Makassar, dan juga Maluku melakukan perlawana. Taktik-Taktik kotor dan perlakuan yang keji terhadap bangsa Indonesia VOC menjadikan daerah-daerah ini begitu ingin mengusir VOC dari daerah mereka.

F. TUGAS AKHIR
1. Tugas Individu
 Buatlah sutau uraian tentang tokoh-tokoh yang berpengaruh di VOC
 Buatlah kliping mengenai Perjuangan-perjuangan bangsa Indonesia dalam mengusir VOC

2. Tugas kelompok
Bagi kelas dalam 5 kelompok! Kemudian buatlah makalah dengan tema yang berhubungan dengan VOC ataupun perjuangan-perjuangan di daerah-daerah untuk mengusir dominasi VOC. Lalu diskusikan makalah kelompok kalian !
G. Soal-soal Latihan
I. Berilah tanda silang (X) pada salah satu jawaban yang kamu anggap paling benar!
1. Berikut ini adalah hak istimewa VOC, kecuali ….
a. Memberlakukan monopoli perdagangan
b. Membentuk angkatan perang
c. Mengganti ketua Staten General
d. Mengadakan perjanjian dengan penguasa Indonesia
2. berdirinya VOC dari usulan J Van Oldebarenevalt mengenai ….
a. Meminta bantuan persenjataan dari portugis untuk melawan Inggris
b. Mencegah konflik perusahaan niaga yang ada di Belanda
c. Meminta bantuan modal dari Amerika
d. Mencegah komunis di Asia Tenggara
3. Dibandingkan Ambon, VOC lebih memilih jayakarta sebagai pusat kegiatan alasannya ….
a. Jayakarta lebih dekat ke pusat pemerintahan Kerajaan Mataram
b. Jayakarta termasuk wilayah kekuasaan kerajaan Banten
c. Letak Jayakarta strategis dalam jalur perdagangan di Asia
d. Letak Jayakarta tidak jauh dari kedudukan VOC di Asia Timur
4. Yang dimaksud pelayaran Hongi adalah ….
a. Pelayaran Makassar untuk menembus blockade VOC
b. Pelayaran VOC untuk mengendalikan monopoli perdaganagn
c. Pelayaran Mataram untuk menyerang benteng VOC di Batavia
d. Pelayaran Banten untuk mengawal perdaganagn lada
5. Apa kepanjangan dari VOC …
a. Verdinastie of Congreus
b. Vereenigde Oostindische Compagnie
c. Vereenigde Oouttindische Compagnie
d. Verivication of Cuourse
6. Sebutkan 4 ciri system colonial ….
a. Dominasi, Eksploitasi, Diskriminasi, Dependensi
b. Dominasi, Evaluasi, Dependensi, Kultural
c. Eksploitasi, Kultural, Dominasi, Dependensi
d. Dependensi, Verifikasi, Kultural, Imperalisme
7. Apakah arti dari “Mare Liberum”….
a. Benua bebas untuk dimiliki
b. Pelayaran yang menyenangkan
c. Kapal belanda yang dinaiki oleh para Gubernur Jendral yang tenggelam
d. Lautan adalah bebas untuk dilayari oleh siapa saja
8. Kapan dan siapakah yang memimpin pelayaran oleh bangsa Belanda ke Indonesia pertama kali ….
a. Pada tahun 1695 dibawah pimpinan Cornelis de Houtman
b. Pada tahun 1555 dibawah pimpinan Cornelis de Houtman
c. Pada tahun 1594 dibawah pimpinan Cornelis de Houtman
d. Pada tahun 1595 dibawah pimpinan Cornelis de Houtman
9. Siapakah raja Mataram yang melakukan kerjasama dengan VOC ….
a. Amangkurat II
b. Sultan Agung
c. Raden mas Jolang
d. Tumenggung adyantoko
10. Siapa sultan Banten Pertama dan kapan bertahtanya ….
a. Maulana Hasanuddin (1522-1570)
b. Maulana Hasanuddin (1550-1599)
c. Raden Panggalihan (1562-1580)
d. Senopati Wiryosuparto (1555-1592)
II. Isilah titik-titik di bawah ini dengan benar!
1. Kapankah VOC di bentuk ….
2. Darimanakah asal dari pejuang Sultan Hasannudin ….
3. Apa yang dimaksud Hak Ekstripasi ….
4. Apa yang dimaksud soevereiniteit ….
5. Siapakah Gubernur Jendral VOC pertama di Indonesia ….



III. Jawablah Pertanyaan di bawah ini dengan singkat dan jelas!
1. Apakah alasan pemindahan pusat pemerintahan yang semula di Ambon lalu kemudia dipindah ke Jayakatra !
2. Bagaimanakah aturan monopoli dan strategi mengendalikan perdaganagn VOC !
3. Apa Hak-hak istimewa VOC yang tercantum dalam Oktrooi (Piagam/Charta) tanggal 20 Maret 1602 !
4. Apa isi dari Perjanjian Bongaya !
5. Mengapa serangan yang dilancarkan Mataram dapat dikalahkan pada waktu menyerang VOC di Jayakarta/ Batavia?

KUNCI JAWABAN
I. Pilihan Ganda
1. C 6. A
2. B 7. D
3. C 8. D
4. B 9. A
5. B 10. A

II. Uraian Singkat
1. 20 Maret 1602
2. Makasar
3. hak untuk membinasakan pohon rempah-rempah yang berlebihan agar rempah-rempah di pasar manca negara tetap tinggi.
4. Hak kedaulatan
5. Pieter Both

III. Esay
1. Alasan memilih Jayakarta adalah sebagai berikut.
». Jayakarta lebih strategis dibandingkan Ambon karena terletak di Tengah jalur Perdagangan Asia.
». Dari jayakarta, VOC akan lebih mudah menyingkirkan Portugis yang berkedudukan di Malaka.
2. Aturan monopoli Perdaganagan VOC adalah sebagai berikut :
- Petani rempah – rempah hanya boleh bertindak sebagai produsen. Hak jual-beli hanya dimiliki VOC.
- Panen rempah-rempah harus dijual kepada VOC dengan harga yang ditentukan VOC.
- Barang kebutuhan sehari-hari, sepereti peralatan rumah tangga, garam, dan kain harus dibeli dari VOC dengan harga yang ditentukan VOC.
Strategi VOC mengendalikan Monopoli Perdagangannya adalah dengan cara sebagai berikut :
- Hak Ekstripasi :hak untuk membinasakan pohon rempah-rempah yang berlebihan agar rempah-rempah di pasar manca negara tetap tinggi.
- Pelayaran Hongi : pelayaran bersenjata lengkap untuk mengawasi pohon rempah-rempah yang berlebihan dan mencegah petani rempah-rempah berhubungan dengan pihak pembeli lain.
3. Hak-hak istimewa yang tercantum dalam Oktrooi (Piagam/Charta) tanggal 20 Maret 1602 meliputi:
• Hak monopoli untuk berdagang dan berlayar di wilayah sebelah timur Tanjung Harapan dan sebelah barat Selat Magelhaens serta menguasai perdagangan untuk kepentingan sendiri;
• Hak kedaulatan (soevereiniteit) sehingga dapat bertindak layaknya suatu negara untuk:
 memelihara angkatan perang,
 memaklumkan perang dan mengadakan perdamaian,
 merebut dan menduduki daerah-daerah asing di luar Negeri Belanda,
 memerintah daerah-daerah tersebut,
 menetapkan/mengeluarkan mata-uang sendiri, dan
 memungut pajak.

4. Isi dari perjanjian Bongaya antara lain:
a. VOC memperoleh hak monopoli perdagangan di Makasar.
b. Belanda dapat mendirikan benteng di Makasar.
c. Makasar harus melepaskan daerah-daerah jajahannya seperti Bone dan pulau-pulau di luar Makasar.
d. Aru Palaka diakui sebagai raja Bone.
5. Kedua serangan tersebut gagal karena beberapa sebab, diantaranya ialah persiapan yang kurang sempurna. Serbuan dilaksanakan bertepatan adanya musim hujan, pertahanan VOC di dalam benteng yang sulit di tembus, penyakit menular dan sabotase perbekalan Mataram oleh pihak-pihak yang membantu VOC.


I. Daftar Pustaka

Drs. Matroji. 2003. IPS Sejarah jilid II. Jakarta : Erlangga.
Kartodirjo, Sartono. 1977. Sejarah Nasional Indonesia IV. Jakarta : Balai Pustaka.
Kartodirjo, Sartono. 1987. Pengantar Sejarah Indonesia baru: 1500-1900 dari Emporium sampai Imperium, Jilid I. Jakarta: PT Gramedia.
D.G.E Hall . diterjemahkan oleh Drs. I.P Soewarsha. Sejarah Asia Tenggara. Surabaya: Usaha Nasional
http://id.wikipedia.org/wiki/Sultan_Agung
dishubkominfo@banten.go.id
www.e-dukasi.net/mol/mo_full.php?moid=121
http://id.wikipedia.org/wiki/Vereenigde_Oostindische_Compagnie
http://www.historycoop.org/journals/jwh/14.2/vink.html
http://en.wikipedia.org/wiki/Dutch_East_India_Company
http://id.wikipedia.org/wiki/Jan_Pieterszoon_Coen

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar