omah kucink

Minggu, 21 Maret 2010

PERKEMBANGAN PARIWISATA DI INDONESIA



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Manusia selalu bergerak, berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Ciri itu menandai pola kehidupan manusia baik dari bangsa primitive maupun modern. Mobilitas merupakan salah satu sifat hakiki manusia itu sendiri yang tidak bisa puas terpaku pada suatu tempat untuk memenuhi tuntutan kelangsungan hidupnya. Tonggak-tonggak sejarah dunia banyak ditandai oleh mobilitas suatu suku, bangsa, Negara, atau tokoh-tokoh sejarah. Dalam zaman modern, pertambahan penduduk dan perkembangan sosial ekonomi yang ditunjang kemajuan teknologi mendorong manusia jauh lebih maju bila dibanding sebelumnya. Faktor jarak, waktu, dan sarana tidak lagi merupakan masalah besar.
Gejala pariwisata, baik dalam arti sempit yaitu dalam arti perjalanan dan kunjungan ke tempat-tempat tertentu sebagai motivasinya, maupun dalam arti luas yang mencakup segala macam motivasi itu mempunyai pengaruh (effects) pada segi-segi kehidupan orang dan masyarakat, baik pada segi sosio-ekonomi yang bisa dinyatakan dalam angka (quantifiable) maupun pada segi-segi sosio-budaya, politik, dan lingkungan hidup yang pada dasarnya sulit dinyatakan dalam angka (non-quantifiable). Pengaruh-pengaruh itu bisa jadi menguntungkan sehingga perlu dilipatgandakan dan bisa pula merugikan yang sedapat mungkin dihindari atau dibatasi.
Pada awalnya, kegiatan pariwisata bersifat individualistis. Yang mana pada abad ke-19, berkembang bersifat masal dengan paket-paket wisata. Mulanya, kwgiatan wisata dilakuakn untuk keperluan ziarah dan bisnis. Kemudian, berkembang dengan motivasi-motivasi bersifat rekreatif, bahkan kepetualangan, pengamatan kehidupan liar, dan lain sebagainya.
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu pariwisata?
2. Bagaimana sejarah munculnya pariwisata?
3. Bagaimana perkembangan kegiatan pariwisata di Indonesia?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian kegiatan Wisata
Perjalanan untuk memenuhi rasa ingin tahu, untuk keperluan yang bersifat rekreatif dan edukatif, dikategorikan sebagai kegiatan wisata. Menurut dua pakar pariwisata berkebangsaan Swiss, Prof. Hunziker dan Prof. Krapf pariwisata adalah keseluruhan fenomena (gejala) dan hubungan-hubungan yang ditimbulkan oleh perjalanan dan persinggahan manusia di luar tempat tinggalnya. Dengan maksud bukan untuk menetap (di tempat yang disinggahinya) dan tidak berkaitan dengan pekerjaan-pekerjaan yang menghasilkan upah.
Kohdyat mendefinisikan pariwisata adalah perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, bersifat sementara, dilakukan perorangan maupun kelompok, sebagai usaha mencari keseimbangan atau keserasian dan kebahagiaan dengan lingkungan hidup dalam dimensi sosial, budaya, alam, dan ilmu. Namun ada batasan mengenai apa yang dimaksud dengan “wisatawan”. Dalam instruksi Presiden No. 9/1969 dinyatakan : “wisatawan adalah setiap orang yang bepergian dari tempat tinggalnya untuk berkunjung ke tempat lain dengan menikmati perjalanan dari kunjunga itu.” Ada lagi yang membedakan antara tourist dengan excursionist. Tourist adalah mereka yang melakukan perjalanan lebih dari 24 jam, sedangkan excursionist kurang dari 24 jam.
B. Sejarah pariwisata
Sudah sejak zaman dahulu di kenal kelompok orang berani, tabah, dan tidak mengenal takut yang menempuh perjalanan jauh untuk suatu tujuan. Mereka menghadapi gangguan malapetaka serta bahaya yang tidak terbilng banyaknya demi tujuan yang ingin mereka capai. Ada yang berbagai motivasi yang mendorong keberanian dan tekad mereka itu, yang diantaranya adalah :
 Kebutuhan praktis dalam politik dan perdagangan
Adanya kerjasama antar suku bangsa atau antarnegara menyebabkan perlunya “duta” yang harus mengadakan perjalanan antara negara-negara yang berdekatan dan kadang-kadang perjalanan antara negara-negara terpisahkan jarak yang sangat jauh, misalnya antara Roma dan Cina. Di sektor perdagangan keinginan untuk mendapatkan keuntungan besar sering mendorong pedagang-pedagang mengadakan perjalanan jauh untuk mencari barang-barang berharga yang jarang ada di pasaran. Misalnya pedagang-pedagang arab sering membeli barang-barang berharga dari Cina untuk kemudian dibawanya ke Mesir dan Itali. Demikian pula pedagang-pedagang India, dengan melalui laut mereka membeli barang-barang berharga dari Cina dan dalam perjalanannya singgah di ibukota kerajaan Sriwijaya. Pada abad ke-XVI, ada pedagang-pedagang dan pelaut-pelaut dari Eropa yang pergi ke kepulauan Indonesia untuk membeli rempah-rempah yang akhirnya dijual di negaranya. Hubungan perdagangan diatas kemudian menyebar ke segala penjuru karena para pedagang yang singgah di pantai-pantai tersebut kemudian disambut oleh pedagang-pedagang lain yan menggunakan kafilah-kafilah untuk kemudian meneruskannya ke daerah-daerah pedalaman.
 Perasaan Ingin Tahu
Perasaan ingin tahu tentang adat istiadat dan kebiasaan orang lain merupakan faktor pendorong kuat pula untuk mengadakan perjalanan jauh. Cerita-cerita tentang bentuk sebenarnya dari wisatawan mula-mula dianggap sebagai peninggalan peradaban tinggi dari beberapa negara yang telah ada di masa lampau. Sedikit demi sedikit cerita-cerita tersebut terungkapkan kembali lewat penemuan-penemuan arkeologi.
 Dorongan Keagamaan
Dorongan keagamaan membuat seorang asing sering melakukan ziarah jauh ketempat-tempat ibadat yang dihormati, misalnya selama hampir 1200 thun permainan olmpiade yang dianggap sama tingkatnya sebagai peristiwa keagamaan maupun olah raga telah menarik perhatian bukan hanya bangsa-bangsa Yunani tetapi juga orang-orang Romawi dan sekitarnya. Juga ada kewajiban bagi umat Kristiani untuk melakukan ziarah di tempat-tempat suci di Roma. Begitu pula dengan umat Islam anjuran untuk melakukan ibadah haji bagi yang mampu.
Berkat adanya Law of Hospitality, yaitu senacan hukum untuk menghormati tamu atau orang asing, maka orang asing bisa mengadakan dan menikmati perjalanan jauh di luar negerinya. Dengan hukum ini pula, setiap orang asing yang mengadakan perjalanan dengan maksud damai dapat meminta hospitality (semacam bantuan atau perlindungan) dari penguasa setempat. Dengan ditunjang fasilitas yang baik pada zaman kekaisaran Romawi, banyak orang kaya yang menjelajahi negerinya.
Abad keenambelas membuka lembaran baru. Penemuan-penemuan atas dunia baru menyebabkan pergeseran arus-arus perdagangan dan jalur-jalur perjalanan lama; munculnya negara-negara kuat dan negara-negara penjajah besar; serta jatuhnya penguasa-penguasa perdagangan di wilayah Mediterania. Reformasi dan perang agama membawa perubahan pula terhadap para peziarah. Di satu pihak semangat peziarah kendor, sedang di pihak lain rasa tidak aman mulai muncul karena tiadanya jaminan perlindungan yang sebelumnya pernah ada. Tempat-tempat penginapan tanpa bayar berubah menjadi penginapan dengan bayaran. Dan para pelancong harus membawa paspor berikut formalitas tapal batas lainnya yang dianggap pila sebagai gangguan yang menghambat kelancaran lalu lintas manusia antar negara.
Zaman Renaissance menandai munculnya bentuk pelancongan baru. Perjalanan mengunjungi tempat-tempat indah dan terkenal diadakan untuk tujuan kenikmatan dan kesenangan. Pada abad XVIII istilah to make the grand tour yang populer di Inggris. Dan istilah wisatawan (tourist) oleh seorang novelis asal Perancis bernama Stendhal diperuntukkan bagi seorang yang melakukan perjalanan dengan tujuan kesenangan (kenikmatan). Kemudian istilah itu dipinjam oleh bahasa-bahasa lain dengan pengertian sempit yaitu perjalanan yang dilakukan bukan untuk tujuan komersial, tetapi untuk istirahat, kesehatan, pemuasan mengetahui tempat-tempat dan rakyat asing. Pada bad-abad berikutnya pun terus terjadi peningkatan dalam dunia pariwisata yang ditunjang oleh perkembangan teknologi juga.
C. Pariwisata di Indonesia
Pengembangan kepariwisataan dewasa ini secara sadar digiatkan oleh sebagian besar negara-negara di dunia. Pemerintah di negara-negara tersebut langsung atau tidak langsung membina pengembangan kepariwisataan masing-masing negaranya mengingat pengembangan pariwisata saling berkaitan dengan berbagai pemeliharaan dan pengembangan sektor-sektor lain. Pengembangan pariwisata tidak dapat berdiri sendiri dan manfaat maksimalnya hanya dicapai bila pertumbuhannnya selaras dengan usaha pemeliharaaan dan pengembangan sektor-sektor lain itu. Sebagian besar wisatawan berasal dari daerah-daerah yang mempunyai ekonomi yang mendominasi daerah lain. Pengeluaran terbesar untuk pariwisata adalah orang Amerika, Jerman, Inggris, Jepang, Perancis dan Belanda.
Perkembangan dunia pariwisata abad XX tidak akan menjadi seperti sekarang, tanpa adanya perkembangan yang pesat dalam alat angkutan yang memungkinkan wisatawan dapat mencapai setiap tempat di dunia ini, dengan waktu lebih cepat dan biaya lebih rendah. Misalnya ada 4 macam angkutan pokok :
• Angkutan kereta api
Alat angkutan kereta api yang makin dimodernisasikan dan disesuaikan dengan kebutuhan wisatawan dengan jalan penambahan kecepatan, peningkatan keamanan, dan kenikmatan suasana di dalamnya, di samping penurunan tarif angkutnya.
• Angkutan mobil dan bus khusus
Pariwisata dengan kendaraan mobil bersama keluarga atau teman-teman adalah yang paling cepat jika dibandingkan dengan alat angkut lainnnya. Hematnya biaya perjalanan dan tidak terikatnya dengan jadwal waktu, serta bebas berhenti di tempat yang disukai adalah sebab utama perkembangan periwisata tersebut. Demikian pula alat angkut bus untuk wisatawan asing dan domestik telah berkembang dengan baik, baik yang berupa perjalanan teratur maupun perjalanan charter oleh kelompok-kelompok wisatawan.
• Angkutan laut/sungai
Bentuk perjalanan wisata baru melalui laut yang membawa wisatawan menghabiskan waktu liburnya di tengah laut sambil singgah di beberapa tempat yang menarik telah muncul dan berkembang pesat. Untuk memenuhi permintaan pasaran bentuk perjalanan wisata baru yang terus meningkat tersebut, banyak perusahaan perkapalan merombak bentuk kapal angkutan tuanya menjadi kapal pesiar yang memenuhi selera wisatawan. Demikian juga telah berkembang angkutan sungai utnuk wisatawan dengan mempergunakan kapal ferry untuk perjalanan laut jarak dekat, penyebrangan antar pulau atau pun menghubungkan daratan dengan pulau-pulau tempat tujuan wisata.
• Angkutan udara
Perkembangan yang menakjubkan dari teknologi alat angkutan adalah angkutan udara dengan kemampuannya yang luar biasa dalam memperpendek waktu untuk mencapai tempat-tempat tujuan jarak jauh. Angkutan udara memungkinkan kebanyakan wisatawan lebih senang menggunakannya untuk tujuan rekreasi, kesehatan, istirahat, dan kegiatan-kegiatan santai lain di tempat-tempat liburan mereka. Kecepatan terbang pesawat-pesawat model baru, telah membuat impian untuk mengadakan perjalanan antarbenua jarak jauh dalam waktu pendek menjadi kenyataan. Juga memungkinkan munculnya pariwisata ke Negara-negara tujuan wisata yang jauh dari Negara pasaran wisata utama.
Demi keberhasilan pengembangan pariwisata, fasilitas dan pelayanan angkutan tetap perlu disurvei yang mencakup fasilitas angkutan tersebut :
o Angkutan udara meliputi fasilitas-fasilitas yang ada yang mencakup bermacam-macam ciri-ciri khas pelabuhan udara, penggunaan pelabuhan udara, kualitas pelayanan di pelabuhan udaradan dalam kapal terbang, masalah-masalah dan potensi-potensi khusus untuk perbaikan fasilitas-fasilitas dan pelayanan-pelayanan angkutan udara.
o Angkutan jalan raya meliputi ciri khas jalan-jalan yang ada, volume lalu lintas dan peraturan-peraturan lalu lintas serta keamanan, potensi pembangunan di masa depan, kualitas pelayanan perusahaan angkutan baik pemerintah maupun swasta.
o Angkutan di air/laut meliputi letak dan ciri-ciri khas pelabuhan, fasilitas pelabuhan maupun kapal, jalan masuk ke pelabuhan-pelabuhan dan dok-dok, dapat dilayarinya jalur-jalur pelabuhan dan jalur-jalur lalu lintas kapal, jumlah dan jenis kapal-kapal yang ada serta kapasitas kapal-kapal tersebut, jaringan jalur dan jadwal kapal-kapal yang ada, rencana-rencana yang ada untuk perbaikan fasilitas-fasilitas dan pelayanan-pelayanan angkutan air/laut.
Pariwisata Di Indonesia pun dari masa ke masa mengalami kemajuan seperti berdasar pembabakan di bawah ini :
 Pariwisata pada zaman kerajaan
Dulu sarana dan prasarana serta fasilitas-fasilitas wisata digunakan oleh para pejabat kerajaan Romawi untuk keperluan dinas juga oleh para pedagang. Kemudian, dengan makin meningkatnya perekonomian pada zaman keemasan kerajaan Romawi, masyarakat luas juga memanfaatkannya untuk keperluan-keperluan rekreatif. Terutama orang-orang kaya dan pejabat tinggi pemerintahan. Berbagai sarana akomodasi dan fasilitas-fasilitas lain makin mewah dibangun di sepanjang pantai Laut Tengah dan Laut Yunani sebagai tempat peristirahatan dan untuk keperluan-keperluan rekreatif. Pembangunan prasarana, sarana dan fasilitas untuk keperluan rekreatif pada zaman dahulu juga terjadi di tempat-tempat lainnya seperti Tiongkok, Mesir, India, Mesopotamia, dan Indonesia.
Dari buku-buku sejarah dapat dibaca tentang pembuatan sebuah kanal yang cukup besar. Pada abad ke 5 Masehi, raja Tarumanegara membuat kanal tersebut untuk keperluan pengairan, transportasi, dan rekreasi. Begitu juga banyak raja-raja lain di Indonesia pada masa lampau membangun berbagai sarana untuk keperluan-keperluan yang bersifat rekreatif seperti berikut ini:
1) Taman Narmada, yang dibangun pada abad ke-17 sebagai tempat peristirahatan raja-raja Lombok.
2) Kolam Segaran di Trowulan, dekat Mojokerto, Jawa Timur, yang dibangun pada zaman kejayaan kerajaan Majapahit untuk keperluan rekreasi, disamping untuk persediaan air di musim kemarau.
3) Tasik Ardi di Banten Lama, yang dibangun oleh Maulana Jusuf pada abad ke-16 untuk keperluan irigasi, persediaan air minum bagi Keraton Surosoan, dan untuk keperluan rekreasi.
4) Gunongan yang dibangun oleh Sultan Iskandar Muda untuk tempat istirahat dan bersantai bagi permaisurinya.
Selain pembangunan prasarana, sarana, dan fasilitas-fasilitas tersebut di atas, perjalanan untuk keperluan rekreatif juga dilakukan, meskipun terbatas raja, bangsawan, orang kaya. Yang mana keluarga kerajaan dan bangsawan mempunyai kedudukan yang cukup tinggi di masyarakat.
Fasilitas-fasilitas itu terus dikembangkan yanga mana pola pembangunan dan pengembangan prasarana, sarana dan fasilitas wisata zaman Romawi dianut hingga abad 20 ini termasuk juga dulu masa kerajaan yang tidak terlepas dari pola pengembangan di Romawi. Semua pembangunan pariwisata pada hakekatnya tidak berbeda dengan pola yang telah dikembangkan sejak zaman Romawi Kuno dari sarana transportasi untuk wisatawan, penginapan serta juga fasilitas-fasilitas pendukung yangn juga untuk kenyamanan wisatawan.


 Pariwisata Masa Hindia Belanda
Kegiatan kepariwisataan dalam bentuk seperti sekarang ini telah kita kenal dewasa ini, sudah di kenal di Indonesia sejak jaman kolonial Belanda, yaitu semasa Hindia belanda, walaupun yang dapat menikmatinya baru terbatas pada orang-orang Belanda, Indo-Belanda dan beberapa orang asing lainnya. Kunjungan wisatawan asing dapat dikatakan agak terbatas, selain masalah transportasi yang masih terbatas, pemerintahan belanda merasa khawatir bangsa-bangsa Eropa lain akan terpikat oleh kekayaan alam kita.
Meskipun begitu, seorang wanita kebangsaan Amerika, Eliza Ruhamah Scidmore, menulis buku berjudul Java, The Garden of the East yang mengisahkan tentang pengalamannya mengisahkan perjalanan di Jawa, madura dan Bali. Dari buku itu paling tidak sudah dapat diketahui adanya sebuah buku petunjuk wisata tentang Indonesia
Tahun 1910, Gubernur Jenderal A.W.F. Idenburg membentuk sebuah organisasi yang bernama vereeniging voor Toeristen Verkeer (VTV). Sebuah badan resni pemerintah Hindia Belanda yang mengatur arus lalu lumtas dan kegiatan kepariwisataan di Hindia Belanda. Organisasi yang didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda ini juga berfungsi sebagai biro perjalanan resmi. Tahun 1913 buku-buku penuntun pariwisata tentang Jawa Barat, Jawa Tengah, Tawa Timur, Bali, Lombok, Sumatera Utara, Sumatera barat, Sumatera Selatan, Toraja, dan Banten diterbitkan juga semua brosur-brosur serta majalah yang empromosikan Indonesia. Tidak ketinggalan juga hotel-hotel ternama melakukan promosi serupa.
Pembangunan sarana transportasi antara Belanda-Indonesia ditingkatkan seperti transportasi udara. Dengan peningkatan jumlah wisatawan asing maka dibangun pula hotel-hotel bertaraf internasional.
 Pariwisata masa pendudukan Jepang
Perang Dunia II dan masa pendudukan Jepang menghentikan segala kegiatan wisata, baik wisata internasional maupun domestik. Obyek-obyek wisata terbengkalai dan lebuh parah lagi segala sarana wisata diambil alih oleh bala tentara Jepang. Hotel-hotel peninggalan Belanda dijadikan rumah sakit atau asrana tentara. Hotel-hotel yang terbaik dijadikan tempat pemukiman para perwira dan pembesar Jepang.
 Pariwisata tahun 1945-1965
Terhentinya kegiatan pariwisata selama perang dunia II dan pendudukan Jepang, berlanjut ke masa memepertahankan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, walaupun demikian pemerintah Indonesia tampaknya cukup tanggap yang segera memberikan perhatiannya terhadap kepariwisataan sebagai salah satu sektor yang dapat menunjang perekonomian Negara. Tahun 1946 oleh Moh. Hatta dibentuk Hotel dan Tourism (Honet). Tugasnya untuk melanjutkan pengelolaan hotel-hotel bekas milik belanda. Setelah KMB, semua hotel milik Belanda dinasionalisasikan dan dikembalikan pada pemilik semula, maka setelah itu Honet dibubarkan.
Tahun 1953 dibentuk Serikat Gabungan Hotel dan Tourisme Indonesia (Sergahti). Ini beranggotakan hampir semua hotel utama Indonesia, tetapi tidak lama karena missi mengosongkan penghuni tetap di hotel tidak berhasil dan juga tidak berhasil menyelesaikan masalah penetapan tarif hotel oleh pemerintah.
Tahun 1955 dapat dikatakan merupakan batu loncatan atau tonggak sejarah bagi perkembangan kepariwisataan di Indonesia, ada beberapa peristiwa yang terjadi pada tahun itu, yang sedikit banyak mempengaruhi pada perkembangan kepariwisataan di Indonesia. Seperti diselenggarakannya Konperensi Asia Afrika di bandung tanggal 18-24 April 1955, berpengaruh positif bagi kepariwisataan di Indoesia, Negara kita makin dikenal secara internasional sehingga sedikit banyak meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan Asing ke Indonesia. Selain itu, lahirlah Yayasan Tourisme Indonesia (YTI) yang bersifat non-kemersial. Tujuan utamanya untuk membina dan mengenbangkan industri pariwisata secara lebih efektif, guna menunjang perekonomian bangsa Indonesia.
Tanggal 8 April 1957, dibentuk Dewan Tourism Indonesia (DTI) yang merupakan sebuah kompromi yang tercapai antara YTI dengan organisasi-organisasi kepariwisataan non-YTI yang melebur menjadi satu wadah DTI.
 Pariwisata periode pemerintahan orde baru
Awal Repelita pertama tahun 1969, situasi dalam negeri masih dipenuhi berbagai gejolak politik sebab pemerintahan Orde Baru melakukan penataan politik nasional berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Akan tetapi, Pemerintahan sama sekali melepaskan perhatiannya terhadap sektor pariwisata.Pada tanggal 22 Maret 1969, dikeluarkan keputusan Presiden R.I No. 30 Tahun 1969, tentang pengembangan kepariwisataan Nasional. Beberapa hal penting yang diatur dalam Keputusan Presiden antara lain adalah sebagai berikut :
o Kebijakan umum di bidang pengembangan kepariwisataan nasional ditetapkan oleh Presiden.
o Pembentukan Dewan pertimbangan Kepariwisataan Nasional yang membantu Presiden dalam menetapkan kebijaksanaan umum tersebut.
o Dewan Pertimbangan Kepariwisataan Nasional terdidi dari Menteri Negara Ekuin (Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Ketua) dan 14 nenteri lainnya sebagai anggota.
o Menteri perhubungan Rusmin Nuryadin, selaku Ketua Sektor pariwisata bertanggung jawab atas palaksan kebijakan umum yang ditetapkan oleh Presiden.
o Didalam Deperhub diadakan Ditjen pariwisata (disamping beberapa Direktorat jenderal lainnya) yang bertugas menampung secara administartif persoalan-persoalan di bidang kepariwisataan. Selain itu juga bertanggung jawab kepada menteri perhubuingan, dengan keputusan Presiden R.I No 30 Tahun 1969 tersebut, dalam konsiderans mengingat angka 2 maka LPN dibubarkan.
Yang menjabat kedudukan Ditjen pariwisata pertama adalah M.J Prajogo hingga tahun 1977. Kemudian Achmad Tirtosudiro sampai tahun 1982 dan Joop ave. tanggal 6 Agustus 1969 dikeluarkan Intruksi Presiden R.I No.9 sebagai pedoman pelaksanaan Kebijaksaan Pemerintah dalam membina kerapariwisataan Nasional. Dalam intruksi Presiden tersebut ditetapkan sebagai berikut :
a. Batasan tentang pengertian kepariwisataan
b. Tujuan, sifat, bentuk, dan sistem pengembangan pariwisata
c. Ruang lingkup tugas pemerintah pusat dan daerah
d. Peranan swasta
e. Peranan Pemerintah dalam hubungannya dengan swasta
f. Tentang koordinasi pembinaan pengembangan pariwisata dan berbagai ketentuan lainnya.
Kegiatan pariwisata, meskipun waktu itu belum dicantumkan dalam GBHN, perhatian yang diberikan Pemerintah terhadap sektor pariwisata sejak awal pemerintahan Orde Baru telah membangkitkan kembali semangan sektor swasta. Menjelang akhir periode ini, perkembangan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia pada tahun 1982 menurun 1,4 % dari jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia pada tahun 1981. Penurunan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia (-) 1,4 % pada tahun 1982 tersebut, tidak terlepas dari menurunnya kegiatan wisata internasional secara global. Penyebabnya adalah resesi ekonomi yang berkepanjangan sebagai akibat dua kali kritis energi yang terjadi pada awal dan akhir tahun 1970-an.
Periode ini dari tahun 1983-1993 atau periode bebas Visa. Kesungguhan Pemerintah untuk mendorong perkembangan pariwisata ternyata tidak berhenti sampai di situ saja. Pada tanggal 9 Maret 1983 dikeluarkanlah Keputusan Presiden No. 15 Tahun 1983 tentang Kebijakan Pengembangan Kepariwisataan Dalam Keppres tersebut ditetapkan, wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia, pada dasarnya dibebaskan dari kewajiban memiliki visa. Keppres tersebut dikenal sebagai kebijakan bebas visa. Disusul dengan Keutusan Menteri Kehakiman R.I. No. M.01-IZ.01. 02-83, tentang Petunjuk Pelaksanaan Pembebasan Keharusan Memiliki Visa bagi Wisatawan Asing yang ditetapkan pada tanggal 19 Maret 1983. Surat Keputusan Direktur Jendral Imigrasi No. F-205.IZ.01.02-83 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pembebasan Keharusan Memiliki Visa bagi Wisatawan Asing yang ditetapkan pada tanggal 23 Maret. Dalam kedua peraturan pelaksanaan Pembebasan dari Keppres itu ditetapkan pembebasan keharusan memiliki visa bagi wisatawan dari 26 negara di Eropa, Amerika, dan Asia termasuk Australia dan Selandia Baru.
Pemerintah juga mendirikan Departemen Parpostel. Agar upaya-upaya pengembangan pariwisata itu dapat dilakukan lebih intensif maka dalam kabinet Pembangunan dipecah menjadi dua departemen yaitu pertama, Departemen Perhubungan yang meliputi Direktorat Jendral Perhubungan Darat, Derektorat Jendral Perhubungan Laut, dan Direktorat Jendral Perhubungan Udara. Kedua, Departemen Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi (Disingkat Departemen Parpostel), yang meliputi Direktorat Jenderal Pariwisata dan Direktorat Jendral Pos dan telekomunikasi. Sementara itu, sejak dikeluarkannya Keppres No. 15 tahun 1983, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia meningkat cukup drastis. Beberapa peristiwa penting lainnya dalam perkembangan pariwisata Indonesia adalah sebagai berikut :
1. Didirikannya Badan Promosi Pariwisata Indonesia(BPPI) pada bulan September 1989.
2. Disahkannya UU. No. 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan pada tanggal 18 Oktober 1990.
3. Diselenggarakannya Konferensi PATA di Bali tahun 1991.
4. Dipilihnya Menparpostel Joop Ave sebagai Presiden PATA pada tahun 1994.
Semua tindakan dan peristiwa yang terjadi membawa hasil-hasil yang positif dalam peningkatan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia. Dengan tindakan dan peristiwa tersebut peranan pariwisata sebagai penghasil devisa meningkat dari urutan 7 menjadi urutan 4.
 Pariwisata pasca orde baru
Pada masa pasca orde baru ini sektor pariwisata di Indonesia mengalami penurunan. Yang mana keamanan di Indonesia di rasa sangat labil dan banyak ditakutkan oleh wisatawan. Berawal dari kerusuhan mei 1998 sampai dengan banyaknya teror-teror bom yang terjadi. Teror bom yang beruntun dari bom J.W. Marriot, bom bali I, bom kuningan, bom bali II serta kerusuhan-kerusuhan di daerah-daerah menyebabkan sektor pariwisata menurun. Wisatawan enggan ke Indosesia dengan alasan keamanan. Namun begitu, sekarang pemerintah mulai membenahi sektor pariwisata dan melakukan promo-promo pariwisata Indonesia seperti Visit Indonesia 2008 untuk kembali menarik wisatawan asing ke Indonesia juga dengan meningkatkan pelayanan akomodasi dan penjaminan keamanan.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Pariwisata adalah perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, bersifat sementara, dilakukan perorangan maupun kelompok, sebagai usaha mencari keseimbangan atau keserasian dan kebahagiaan dengan lingkungan hidup dalam dimensi sosial, budaya, alam, dan ilmu. Ada yang berbagai motivasi yang mendorong keberanian dan tekad mereka itu, yang diantaranya adalah Kebutuhan praktis dalam politik dan perdagangan, Perasaan Ingin Tahu, Dorongan Keagamaan.
Kegiatan pariwisata di Indonesia mengalami perkembangan dari satu masa ke masa lain ke arah yang positif. Perkembangan sektor pariwisata di Indonesia terbagi dalam beberapa fase yaitu pariwisata pada zaman kerajaan, pariwisata Masa Hindia Belanda, pariwisata masa pendudukan Jepang, pariwisata tahun 1945-1965, pariwisata masa orde baru, pariwisata pasca orde baru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar