omah kucink

Sabtu, 30 April 2011

PEMIMPIN BUKANLAH HANYA SEKEDAR LAMBANG

PEMIMPIN BUKANLAH HANYA SEKEDAR LAMBANG Memilih pemimpin bukanlah perkara sepele, sebab kandidat yang terpilih itulah yang akan membawa label pemimpin rakyat untuk membuat dan menjalankan kebijakan-kebijakan yang menentukan nasib jutaan jiwa umat. Suka tidak suka, kandidat yang terpilih itulah yang kemudian akan menorehkan tinta sejarah di negeri ini. Meskipun torehan itu masih tanda tanya besar, apakah akan menjadi tinta emas yang senantiasa dikenang atau tinta hitam yang senantiasa diratapi. Mampukah ia menjadi pemimpin sejati, atau justru menjadi pemimpin yang menghianati amanat rakyat. Pemimpin merupakan lambang kekuatan, keutuhan, kedisiplinan dan persatuan. Namun harus kita sadari juga bahwa pemimpin bukanlah hanya sekadar lambang. Karena itu, ia memerlukan kompetensi, kelayakan dan aktivitas yang prima untuk memimpin bawahannya. Melihat esensi kepemimpinan, sebagai seorang Muslim, tentu tidak bisa sembarangan dalam memilih pemimpin. Jangan sampai perilaku “memilih kucing dalam karung” menghantui kita. Sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam ketika beliau menyampaikan hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah: "Sesungguhnya kalian nanti akan sangat berambisi terhadap kepemimpinan, padahal kelak di hari kiamat ia akan menjadi penyesalan.” (HR. Al-Bukhari). PERAN SEORANG PEMIMPIN Menurut perspektif Islam ada dua peran yang dimainkan oleh seorang pemimpin: 1.Pelayan (khadim) Pemimpin adalah pelayan bagi pengikutnya. Seorang pemimpin yang dimuliakan orang lain, belum tentu hal tersebut sebagai tanda kemuliaan. Karena pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bisa berkhidmat dan menjadi pelayan bagi kaumnya.Seorang pemimpin sejati, mampu meningkatkan kemampuan dirinya untuk memuliakan orang-orang yang dipimpinnya. Dia menafkahkan lebih banyak, dia bekerja lebih keras, dia berpikir lebih kuat, lebih lama dan lebih mendalam dibanding orang yang dipimpinnya. Demikianlah pemimpin sejati yang dicontohkan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Bukan sebaliknya, pemimpin yang selalu ingin dilayani, selalu ingin mendapatkan dan mengambil sesuatu dari orang-orang yang dipimpinnya. 2. Pemandu (muwajjih) Pemimpin adalah pemandu yang memberikan arahan pada pengikutnya untuk menunjukkan jalan yang terbaik agar selamat sampai di tujuan tentu saja itu baru tercapai dengan sempurna jika di bawah naungan syariat Islam. • sumber :Al Fikrah No.11 Tahun X/08 Rabiul Akhir 1430 H Dalam sebuah organisasi atau pun wilayah pasti ada penguasa yang memimpin, dan pemimpinnya pasti menginginkan yang terbaik bagi kelompoknya. Namun dewasa ini posisi pemimpin sering disalah gunakan dalam wewenangnya, misalnya saja untuk memperkaya diri sendiri dengan menggunakan posisinya dalam menguasai segala sektor ekonomi dengan cara korupsi ataupun dengan cara lain yang tidak baik. Tentunya tidak semua pemimpin buruk, masih ada pemimpin yang dalam kekuasaannya berlaku baik bahkan benar-benar mengabdi pada rakyatnya. Walaupun di Indonesia bisa dikatakan jarang namun masih ada walupun jumlahnya terbatas. Semua pihak ingin menciptakan keadaan yang kondusif pada berbagai hal, dan inilah yang harus diupayakan oleh seorang pemimpin sebagai nahkoda dalam suatu kelompok. Namun ini juga harus dibantu oleh semua elemen dalam kelompok itu sendiri. Indonesia yang memiliki penduduk sekitar 200 juta lebih tentunya pasti ada yang bersifat pemimpin yang bijaksana dan memiliki kepentingan untuk semua rakyatnya untuk lebih baik. Semua pasti ingin yang terbaik bagi negeri ini, bukan saling menjegal demi kekuasaan, alangkah baiknya jika semua bertindak jujur berdasarkan hati nurani, tentunya masalah yang membelit negeri tercinta ini akan cepat berahkir, bukan seperti sekarang ini yang saling menuding dan lempar tanggung jawab. Harus ada pemimpin yang berani bukan hanya sekedar membela partai yang mengangkatnya, namun harus berani mengungkap kebenaran walaupun itu dari dalam tubuh partai yang membesarkannya. Pemimpin adalah posisi yang harus mengemban amanah rakyat, bukan memperalat rakyat. Sekarang ini kita jangan berpangku tangan dan terlena menyaksikan kisah muram durja negeri ini, sekecil apapun itu kita harus lakukan bagi negeri ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar